PENILAIAN AUTENTIK


PENILAIAN AUTENTIK

Pendahuluan
Untuk mengetahui pencapaian kompetensi siswa secara utuh, diperlukan berbagai bentuk asesmen. Di masa lalu, tes tulis (paper and pencil test) adalah bentuk penilaian utama untuk mengukur pengetahuan siswa, dan sering diberikan pada akhir suatu topik, atau satu kurun waktu tertentu, misalnya pada akhir semester. Tes tertulis yang diberikan umumnya berfokus pada penguasaan materi/isi yang mudah dijabarkan menjadi skor yang kemudian dapat dimasukkan ke dalam rapor.

Kurikulum 2013 menuntut siswa mendemonstrasikan kompetensi yang sudah dikuasai dengan berbagai cara. Tes tulis saja tidak dapat memberikan bukti pencapaian kompetensi tersebut. Guru perlu menggunakan berbagai cara untuk mengumpulkan data (bukti) dari siswa untuk mengevaluasi pencapaian atau kemajuan ke arah pemenuhan kompetensi yang ingin dicapai.

Unit ini memperkenalkan gagasan program asesmen yang berimbang dan berfokus pada tugas kinerja sebagai bukti autentik bagaimana siswa berproses dalam belajar. Untuk memberi gambaran dari proses tersebut, peserta akan dilatih untuk membuat rubrik yang berisi kriteria-kriteria pencapaian hasil belajar tersebut. Rubrik berfungsi sebagai instrumen yang dapat membantu guru untuk melihat sejauh mana perkembangan belajar siswanya melalui kinerja yang ditunjukkannya.

Tujuan
Setelah mengikuti sesi ini, para peserta mampu:
1. membuat tugas kinerja sesuai dengan Kompetensi Dasar yang ingin dicapai
2. membuat rubrik untuk diterapkan pada tugas kinerja yang sudah dibuat
3. menggunakan rubrik untuk menilai hasil belajar siswa

Sumber dan Bahan
1. Presentasi Unit 5
2. ATK: spidol besar (biru atau hitam), kertas plano, selotip kertas.
3. Contoh tugas kinerja dan rubriknya
4. Bahan bacaan

Waktu 90 menit.

Garis Besar Kegiatan

Rincian Langkah-langkah Kegiatan
Pendahuluan (15 menit)
(1) Fasilitator menyampaikan latar belakang, tujuan, dan langkah-langkah kegiatan sesi.
(2) Peserta diajak curah pendapat tentang apa yang dimaksud dengan penilaian autentik.
(Jawab: a.l. Bentuk penilaian yang menuntut siswa untuk menunjukkan kompetensinya (sikap, pengetahuan, keterampilan) dalam situasi sesungguhnya, yaitu situasi (mirip) kehidupan sehari-hari dimana kompetensi itu digunakan)

(3) Fasilitator menambahkan informasi lewat tayangan mengenai bentuk-bentuk penilaian
autentik (Tugas kinerja, portofolio, dan catatan anekdot).

Aplikasi (65 menit)
Kegiatan 1: Menilai tanpa Rubrik (10’)
(1) Fasilitator menayangkan/membagikan hasil kerja siswa kepada setiap peserta dan meminta mereka untuk menilainya.
(2) Setiap peserta menuliskan hasil penilaiannya (skor, rentang 1 – 10)) dan membandingkannya dengan teman kelompoknya.
(3) Fasilitator meminta beberapa peserta untuk menyampaikan nilai mereka beserta alasannya. Fasilitator mengajak peserta untuk menyimpulkan alasan tersebut:
– apakah kriteria penilaian yang dimiliki peserta sama? Apa perbedaannya?
– apa dampaknya apabila kriteria yang dimiliki penilai berbeda?
– apa yang harus dilakukan oleh seorang guru agar penilaian bisa berlangsung secara
objektif?

Kegiatan 2: Menilai dengan Menggunakan Rubrik (15’)
(4) Fasilitator menyampaikan kepada peserta bahwa dalam melakukan penilaian autentik, guru harus menjunjung tinggi obyektifitas dan untuk mewujudkannya, mereka membutuhkan suatu instrumen, yaitu rubrik.
(5) Fasilitator membagikan tugas kinerja dan rubriknya kepada peserta untuk dibaca.

Rubrik dari Tugas Kinerja tadi

Kategori T i n g k a t a n
4 3 2 1
Informasi fakta Informasi fakta meliputi apa, siapa, dimana dan mengapa. fakta jelas dan akurat Informasi fakta meliputi apa, siapa, dimana dan mengapa. Fakta pada umumnya jelas dan akurat. Informasi fakta tidak lengkap, fakta terkadang jelas dan akurat. Informasi fakta tidak lengkap atau disebutkan. Fakta tidak jelas dan tidak akurat.
Mengekspresikan ide Seluruh ide dikembangkan dan diekspresikan sangat jelas. Sangat mudah bagi pembaca untuk memahami isi cerita Sebagian besar ide dikembangkan dan diekspresikan dengan jelas, mudah bagi pembaca untuk memahami isi cerita. Beberapa ide dikembangkan dan diekspresikan dengan jelas. Agak mudah bagi pembaca untuk memahami isi cerita. Ide – ide tidak dikembangkan secara jelas, tidak mudah bagi pembaca untuk memahami isi cerita.
Urutan dan struktur bahasa Seluruh kalimat disusun dengan baik, rincian diletakkan sesuai dengan urutan. Sebagian besar kalimat disusun dengan baik, rincian sebagian besar diletakkan sesuai dengan urutan. Beberapa kalimat disusun dengan baik, beberapa rincian tidak diletakkan sesuai urutan. Kalimat tidak tersusun dengan baik, rincian tidak diletakkan sesuai urutan.
Tanda baca dan penggunaan huruf besar/kecil Tidak terdapat kesalahan dalam penggunaan huruf besar dan tanda baca, sehingga cerita sangat mudah dibaca. Terdapat beberapa kesalahan (kurang dari lima) dalam penggunaan huruf besar dan tanda baca, namun cerita masih mudah untuk dibaca. Terdapat sejumlah kesalahan dalam penggunaan huruf besar dan tanda baca sehingga cerita agak sulit dibaca.
Terdapat banyak kesalahan dalam penggunaan huruf besar dan tanda baca sehingga cerita sulit untuk dibaca.

(6) Fasilitator kemudian meminta setiap peserta untuk menilai kembali karya siswa tersebut dengan menggunakan rubrik.
Kegiatan 3: Membandingkan Hasil Penilaian (5’)
(7) Peserta membandingkan dan mendiskusikan hasil penilaian tanpa rubrik dan yang menggunakan rubric.
• Apakah ada perbedaan antara penilaian dengan menggunakan dan tanpa menggunakan rubrik?
• Manakah yang memberikan skor lebih objektif? Mengapa?

Kegiatan 4: Merancang Tugas Kinerja dan Rubrik (35’)

a. Informasi tentang ‘Proses Perancangan Penilaian Autentik’
(8) Fasilitator memberikan informasi proses merancang penilaian autentik sesuai tayangan.
• Memahami Kompetensi Dasar yang dipilih (Sikap, pengetahuan, dan keterampilan);
• Menentukan tugas kinerja/performance task yang sesuai dengan KD;
• Menentukan kriteria/aspek yang dinilai;
• Menyusun rubrik dengan mengacu pada kriteria/aspek yang telah ditentukan;
• Merancang pengalaman belajar/kegiatan belajar-mengajar.

b. Informasi tentang ‘Tahapan Penyusunan RUBRIK’
(9) Fasilitator kemudian mengajak setiap kelompok untuk membuat tugas kinerja dan rubriknya. Namun fasilitator terlebih dahulu meminta peserta untuk bersama-sama (pleno) mengikuti penjelasan bagaimana tahapan rubrik disusun, yaitu:
(Setelah KD ditentukan)
• Menuliskan kriteria/aspek yang dinilai;
• Merumuskan indikator untuk setiap aspek dan tingkatan
(Salah satu cara: Rumuskan dulu indikator ekstrim baik dan kurang, baru kemudian yang di tengah)

(Fasilitator memberikan Kompetensi Dasar sesuai mapel kelompok untuk dijadikan
dasar saat menyusun kriteria)

(10) Setiap kelompok saling menukarkan hasil pekerjaannya kepada kelompok lain. Fasilitator memandu proses tersebut.

1
Catatan untuk Fasilitator
Ingatkan peserta, pada saat akan menyusun maupun ketika memeriksa rubrik hasil kelompok lain mereka perlu mengkaji bahwa uraian/deskripsi tiap aspek yang dinilai harus TIDAK MULTITAFSIR. Karena jika multitafsir, hasil penilaian mungkin masih akan berbeda antar penilai yang berbeda. Dengan demikian, rubrik tidak ada manfaatnnya karena penilaian tidak objektif, melainkan subjektif (= tergantung SIAPA yang menilai)

Penguatan/Refleksi (10 menit)
(1) Fasilitator mengajak peserta menyimpulkan mengenai tugas kinerja dan rubrik dengan mengajukan beberapa pertanyaan:
• apa yang membedakan antara penilaian autentik dengan penilaian lainnya?
(Mendemonstrasikan kinerja, dilakukan di situasi nyata, menerapkan sikap, pengetahuan dan keterampilan, rancangan siswa, bukti langsung)
• apa yang harus diperhatikan guru saat menyusun penilaian autentik?
(Tujuan yang akan dicapai, waktu yang tersedia, kompetensi siswa)
• Apa yang bisa guru lakukan dengan hasil penilaian autentik?
(Dijadikan sebagai data/bukti dari proses belajar siswa, menyimpannya di portofolio, mendiskusikannya dengan siswa, orangtua atau guru lain)
(2) Fasilitator memberi penguatan kepada peserta bahwa penilaian autentik merupakan salah satu penilaian yang wajib dilaksanakan oleh guru saat menjalankan kurikulum 2013.

Lembar Kerja 6.1
Karya siswa

Informasi Tambahan 6.1

Rubrik Tugas Kinerja ‘Liburan’
Kategori T i n g k a t a n
4 3 2 1
Informasi fakta Informasi fakta meliputi apa, siapa, dimana dan mengapa. fakta jelas dan akurat Informasi fakta meliputi apa, siapa, dimana dan mengapa. Fakta pada umumnya jelas dan akurat. Informasi fakta tidak lengkap, fakta terkadang jelas dan akurat. Informasi fakta tidak lengkap atau disebutkan. Fakta tidak jelas dan tidak akurat.
Mengekspresikan ide Seluruh ide dikembangkan dan diekspresikan sangat jelas. Sangat mudah bagi pembaca untuk memahami isi cerita Sebagian besar ide dikembangkan dan diekspresikan dengan jelas, mudah bagi pembaca untuk memahami isi cerita. Beberapa ide dikembangkan dan diekspresikan dengan jelas. Agak mudah bagi pembaca untuk memahami isi cerita. Ide – ide tidak dikembangkan secara jelas, tidak mudah bagi pembaca untuk memahami isi cerita.
Urutan dan struktur bahasa Seluruh kalimat disusun dengan baik, rincian diletakkan sesuai dengan urutan. Sebagian besar kalimat disusun dengan baik, rincian sebagian besar diletakkan sesuai dengan urutan. Beberapa kalimat disusun dengan baik, beberapa rincian tidak diletakkan sesuai urutan. Kalimat tidak tersusun dengan baik, rincian tidak diletakkan sesuai urutan.
Tanda baca dan penggunaan huruf besar/kecil Tidak terdapat kesalahan dalam penggunaan huruf besar dan tanda baca, sehingga cerita sangat mudah dibaca. Terdapat beberapa kesalahan (kurang dari lima) dalam penggunaan huruf besar dan tanda baca, namun cerita masih mudah untuk dibaca. Terdapat sejumlah kesalahan dalam penggunaan huruf besar dan tanda baca sehingga cerita agak sulit dibaca.
Terdapat banyak kesalahan dalam penggunaan huruf besar dan tanda baca sehingga cerita sulit untuk dibaca.

Informasi Tambahan 6.2
Penilaian Autentik

Apa dan Mengapa Penilaian?

Apa yang dimaksud dengan penilaian? Banyak definisi tentang penilaian. Salah satunya adalah sebagai berikut.

Penilaian adalah proses menilai secara sistematis yang mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi atas permasalahan yang ditemukan. Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan, pengolahan, dan pemaknaan data (informasi) untuk menentukan kualitas sesuatu yang terkandung dalam data tersebut. Dalam kaitannya dengan pembelajaran, informasi tersebut diperoleh melalui serangkaian kegiatan yang terjadi di dalam pembelajaran.

Pendapat di atas didukung oleh Jossey-Bass (1999) yang mengartikan penilaian atau asesmen sebagai suatu proses pengumpulan data atau informasi yang sistematis dengan tujuan untuk mengembangkan suatu program pembelajaran.
Tujuan dari kegiatan penilaian adalah untuk mengetahui sejauhmana siswa mencapai kompetensi dari suatu program, sejauh mana guru berhasil dalam melaksanakan suatu program, dan sejauh mana suatu program efektif.

Dalam penilaian tradisional, siswa biasanya diminta untuk menjawab soal pilihan ganda, mengisi bagian yang kosong (‘titik-titik’), menentukan Benar-Salah, dan memasangkan jawaban. Pada prinsipnya, siswa MEMILIH respon/jawaban yang disediakan atau MENGINGAT informasi untuk menjawab pertanyaan/soal. Penilaian tradisional gagal dalam mengungkap kinerja intelektual yang kompleks yang dibutuhkan dalam kehidupan.

Sementara dalam penilaian autentik, siswa diminta untuk menunjukkan/ mendemonstrasikan kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) hasil belajarnya dengan cara MENGKREASI respon atau produk (bukan memilih respon yang disediakan) dan dalam konteks yang lebih autentik/asli, konteks (mirip dengan) kehidupan.

Penilaian proses dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung dalam kegiatan belajar-mengajar. Dalam proses pembelajaran tersebut, guru akan memperhatikan aktivitas, respon, kegiatan, minat, sikap, dan upaya-upaya siswa dalam mengikuti proses pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, perkembangan, kemajuan, masalah, dan kesulitan belajar siswa akan diketahui. Informasi yang harus terekam melalui proses ini meliputi tiga ranah, yakni ranah kognisi, afeksi, dan psikomotor. Oleh karena itu, untuk mendapatkan informasi tentang ketiga ranah tersebut dalam proses belajar dibutuhkan berbagai macam bentuk penilaian baik tes maupun nontes.

Perbedaan penilaian tradisional dan autentik terlihat pada tabel berikut:

Tradisional Autentik

Memilih respon/jawaban
—————-
Mendemonstrasikan kinerja
Suasana tiruan —————- Kehidupan nyata
Mengingat —————- Membangun/menerapkan
Rancangan Guru —————- Rancangan Siswa
Bukti tak langsung —————- Bukti langsung

Memilih Respon ke Mendemonstrasikan Kinerja: Pada penilaian tradisional, siswa biasanya diberi beberapa pilihan (misal tes pilihan ganda, benar-salah, memasangkan jawaban) kemudian diminta untuk MEMILIH jawaban benar dari yang disediakan. Sebaliknya, pada penilaian autentik siswa diminta MENDEMONSTRASIKAN pemahamannya dengan menyelesaikan tugas yang menerapkan pemahaman tersebut;
Suasana Tiruan ke Kehidupan Nyata: Sangatlah jarang dalam kehidupan sehari-hari kita diminta memilih dari empat kemungkinan untuk menunjukkan kemampuan kita dalam satu hal. Hal yang sering adalah, sebagaimana dalam penilaian autentik, kita dituntut untuk mendemonstrasikan kemampuan kita dengan cara melakukan sesuatu.
Mengingat Pengetahuan ke Membangun/Menerapkan Pengetahuan: Penilaian tradisional sangat efektif untuk mengetahui apakah siswa menguasai pengetahuan. Penilian autentik, di lain pihak, menuntut siswa untuk menganalisis, mensintesis, dan menerapkan apa yang mereka telah pelajari.
Rancangan Guru ke Rancangan Siswa: Pada penilaian tradisional, siswa dituntut untuk mendemostrasikan sesuatu yang telah disusun oleh guru/si pembuat tes. Perhatian siswa terfokus dan terbatas pada apa yang diminta dalam tes. Sebaliknya, penilaian autentik lebih memberi kesempatan kepada siswa untuk mendemonstrasikan bukti-bukti kemampuan sebagai hasil konstruksi mereka.
Bukti Tak Langsung ke Bukti Langsung: Pada penilaian tradisional, kita tidak bisa mengetahui apakah siswa dapat melakukan sesuatu dengan pengetahuan yang mereka miliki . Kemampuan siswa menjawab tidak bisa diakui sebagai bukti langsung dari kemampuan mereka melakukan sesuatu. Pada penilaian autentik, kita dapat langsung melihat ujud kemampuan siswa terkait pengetahuan tertentu, karena mereka dapat melakukan sesuatu terkait dengan pengetahuan tersebut.
Tujuan penilaian autentik adalah untuk mengukur kemampuan siswa dalam MENERAPKAN (bukan mengingat) pengetahuan dan keterampilan berpikir mereka dalam memecahkan masalah/tugas yang mensimulasikan kehidupan nyata.
Penilaian autentik dapat berwujud sebagai hal-hal berikut:
• Tugas kinerja/Unjuk kerja kemamuan/keterampilan
• Catatan anekdot
• Portofolio

Tugas Kinerja
Gambar berikut menunjukkan hasil tulisan siswa setelah ia membaca suatu teks. Siswa diminta untuk menggambar dan menuliskan tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita. Bagaimana guru menilainya?

Untuk menilai produk di atas, guru menggunakan rubrik berikut.

Kriteria/level Sudah berkembang
Sedang Berkembang
Membutuhkan Bantuan

Gambar dan warna Seluruh gambar detail dan diwarnai penuh. Sebagian besar gambar detail dan diwarnai. Sebagian kecil gambar detail dan diwarnai
Penulisan kata Kata yang dirangkai sudah menyerupai kalimat. Menuliskan beberapa kata, namun belum menjadi satu kesatuan. Tidak ada kata yang ditulis lengkap.
Ejaan Seluruh kata ditulis dengan benar. Sebagian kata ditulis dengan ejaan yang benar. Sebagian kecil kata yang ditulis dengan ejaan yang benar.

Rubrik

Apa yang dimaksud dengan rubrik? Apa manfaatnya?

Rubrik adalah suatu instrumen yang digunakan untuk menilai sikap, keterampilan, dan pengetahuan siswa lewat suatu produk atau kinerja. Di dalam rubrik terdapat kriteria/aspek yang harus dinilai. Selain itu juga terdapat level yang menunjukkan tingkatan pencapaian.

Rubrik memberikan manfaat saat guru akan menilai suatu produk atau kinerja yang tidak bisa dinilai melalui tes. Rubrik dapat memperlihatkan kelemahan dan kekuatan setiap siswa di area tertentu. Hal ini sangat membantu guru dalam membuat program pembelajaran selanjutnya.

Bagaimana Mengembangkan Rubrik?
• Melihat tujuan pembelajaran
• Menentukan produk atau kinerja yang diharapkan atau menganalisis tujuan menjadi indikator (kemampuan maupun isi, karena rumusan KD terdiri dari kemampuan dan isi/materi)
• Menentukan aspek yang akan dinilai dari produk atau kinerja yang diharapkan
• Menguraikan kualitas tiap aspek dalam tingkatan/gradasi (Uraian harus TIDAK multitafsir)
• Merumuskan cara memberi skor

Istilah yang bisa digunakan dalam level/tingkatan :

• Menggunakan angka (1, 2, 3, 4)
• Menggunakan kata; berkembang dengan baik, berkembang, masih membutuhkan bantuan atau kata-kata lainnya yang menunjukkan gradasi.

Rubrik bisa digunakan untuk mengukur suatu produk atau bentuk kinerja lainnya seperti berikut ini.

• Tulisan
• Puisi
• Membaca puisi
• Presentasi
• Membaca cerita/menceritakan kembali
• Gambar
• Diskusi
• Debat

Catatan Anekdot
Catatan anekdot merupakan catatan singkat dan informal yang ditulis guru. Tulisan ini mengenai bagaimana sikap siswa dalam belajar, pertanyaan yang diajukan siswa, serta strategi dan keterampilan yang diaplikasikan. Catatan ini pun memuat sikap atau keterampilan yang diharapkan muncul di kegiatan berikutnya.

Catatan anekdot sangat baik dilakukan karena akan mencatat informasi yang bermanfaat untuk disampaikan kepada orangtua. Catatan ini bisa dimasukkan ke dalam portofolio sehingga guru bisa melihat perjalanan belajar siswa.

Contoh di samping atas merupakan catatan guru saat siswa sedang melakukan suatu kegiatan. Apabila dilihat dari komentar guru tersebut, kita bisa tahu bahwa siswa sedang mengerjakan tugas yang dilakukan setiap hari karena memiliki keterkaitan antara hari pertama dengan hari berikutnya.

Catatan anekdot dapat dilakukan tanpa persiapan dan perencanaan. Guru bisa saja belum mengetahui akan mencatat siswa yang mana. Guru mencatat perilaku yang dominan dan menganggap apa yang diamatinya atau yang terjadi di dalam kelas yang menurutnya patut untuk didokumentasikan.

Untuk kebutuhan catatan anekdot, guru bisa menulisnya di media kertas yang dipotong kecil (1 kertas HVS bisa dibagi empat bagian besar atau sesuai kebutuhan) atau menggunakan kartu katalog yang bisa dibeli (bisa juga dibuat sendiri).

Portofolio
Proses belajar siswa adalah suatu perjalanan panjang dan berbeda antara satu sama lain. Dalam perjalanannya tersebut, guru harus mengumpulkan data yang bisa membantunya mengarahkan program belajar yang sesuai dengan siswa. Bukti-bukti dari hasil belajar siswa yang dikumpulkan tersebut disebut portofolio.

Menurut DeFina (1992), portofolio adalah kumpulan hasil pekerjaan siswa yang bermakna, yang dikumpulkan berdasarkan periode waktu tertentu.

Untuk literasi, Sumarna Surapranata dan Muhammad Hatta (2004: 36) memberikan contoh dokumen yang terdapat di dalam portofolio sebagai berikut.

• Catatan observasi guru tentang kemampuan membaca dan menulis siswa.
• Tanggapan siswa terhadap cerita/dongeng yang dibacakan guru.
• Daftar dan komentar singkat tentang buku yang telah dibaca.
• Sinopsis bacaan yang dibuat.
• Surat-surat yang dibuat.
• Naskah pidato.
• Karangan bebas (puisi, prosa).
• Laporan kunjungan.
• Tulisan di majalah dinding.

Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Di dalam portofolio, selain karya siswa, guru dapat memasukkan rubrik dan catatan anekdot untuk menunjang informasi. Berikut adalah contoh dari portofolio.

Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah sebagai berikut.

• Jelaskan kepada siswa maksud penggunaan portofolio, yaitu tidak semata-mata merupakan kumpulan hasil kerja yang digunakan oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh siswa sendiri. Dengan melihat portofolionya, siswa dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan, tetapi membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri.
• Suatu saat, tentukan bersama siswa karya yang mana saja yang akan dipilih. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda.
• Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder. Beri komentar di belakang karya siswa yang menunjukkan bagaimana ia bekerja. Beri tanggal.
• Bila perlu, jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Jika dianggap perlu, undanglah orang tua peserta didik untuk diberi penjelasan tentang maksud dan tujuan portofolio, sehingga orang tua dapat membantu dan memotivasi anaknya.

Portofolio seorang siswa bersifat rahasia. Oleh sebab itu, dokumen penting ini perlu disimpan rapi dan hanya bisa digunakan oleh yang berkepentingan, yaitu guru kelas saat itu, guru kelas berikutnya, siswa yang bersangkutan, orang tua atau pihak lain yang berkepentingan.

MATERI PRESENTASI UNIT 6

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s