MAKALAH

 

STUDI TOKOH : SAYYID MUHAMMAD RASYID RIDHA

 

 

 

Tugas Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam

Dosen Pengampu: Drs. Samsul Munir, M.A

 

 

 

 

 

 

Disusun Oleh:

NAMA           : Sugeng Priyanto

NIM                : 343.8.011

 

 

 

 

PROGRAM PASCASARJANA (S2)

MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM (M.Pd.I)

UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH WONOSOBO TAHUN 2011

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Dalam Sejarah pemikir Islam modern, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha  merupaka tokoh pembaharu Islam yang hidup pada kondisi zaman dalam kekacauan dan keterpurukan lantaran kebanyakan mereka telah meninggalkan petunjuk-petunjuk al Qur’an. Melalui Tafsirnya, yaitu al-Manar Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berupaya mengaitkan ajaran-ajaran al-Qur’an dengan masyarakat dan kehidupan serta menegaskan bahwa islam adalah agama universal dan abadi, yang selalu sesuai dengan kebutuhan manusia disegala waktu dan tempat. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha memiliki visi bahwasannya umat Islam harus menjadi umat yang merdeka dari belenggu penjajahan dan menjadi umat yang maju sehingga dapat bersaing dengan umat-umat lain dan bangsa-bangsa barat diberbagai bidang kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha juga berusaha meneruskan cita-cita al-Urwah al-wutsqa majalah yang memuat ide-ide pemikiran Syekh Jamal al-Din al-Afgani dan Syekh Muhammad Abduh yaitu memberantas bid’ah, khurafat, takhayul, kepercayaan jabar, dan fatalis, paham-paham yang keliru tentang qada dan qadar, praktek-praktek bid’ah dalam tarekat sufi, meningkatkan mutu pendidikan Islam.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha melalui majalah al-Manar dan Tafsir al-Qur’an al-Hakim atau lebih populer dengan nama Tafsir al-Manar mempublikasikan banyak ide pembaruan Jamal al-Afghani, Muhammad Abduh dan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha sendiri. Yang pada prinsipnya tidak berbeda dengan pembaruan dari para gurunya, Jamal al-Din al-Afgani dan Muhammad Abduh.

  1. TUJUAN PENULISAN
    1. Mengetahui secara jelas riwayat hidup Sayyid Muhammad Rasyid Ridha
    2. Pemikiran dan karya-karya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha

BAB II

PEMBAHASAN

  1. KONDISI UMAT PADA MASA SAYYID MUHAMMAD RASYID RIDHA

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha hidup pada kurun waktu antara sepertiga akhir abad ke 19 dan sepertiga awal abad ke 20. Kurun waktu tersebut merupakan kurun waktu yang paling kelabu dalam sejarah arab modern jika dibandingkan dengan kurun waktu sebelumnya. Sebab, saat itu kaum imperialis barat telah bersekutu dengan kaun zionis international untuk memecah belah umat islam, membagi negeri-negeri mereka dan merampas harta kekayaan mereka.[1]Pada kurun waktu tersebut, kerajaan turki Usmani yang pernah menjadi kerajaan adikuasa dan menguasai wilayah yang sangat luas, meliputi Asia kecil, Armenia, Irak, Siria, Hejaz dan Yaman di Asia ; Mesir, Sudan, Libya, Tunisia, Maroko, dan Al Jazair di Afrika; Bulgaria, Hungaria, Yugoslavia, Rumania, Albania, dan Yunani di Eropa Timur telah mengalami kemunduran. Sejak abad ke -18 Turki Usmani selalu mengalami kekalahan dalam peperangan dengan Eropa. Sewaktu terjadi perang dunia I pada tahun 1914, Turki Usmani ikut bergabung dengan Jerman dalam menghadapi negara-negara sekutu namun mengalami kekalahan. Satu persatu negeri-negeri islam yang berada dalam kekuasaanya jatuh kedalam negara-negara Eropa.Tepatnya tanggal 3 Maret 1924 Kerajaan Turki Usmani sendiri telah diubah menjadi Negara Republik Turki yang beraliran sekuler.

Sejak kehancuran Kerajaan Turki Usmani keadaan Umat Islam semakin menyedihkan jika dilihat dari aspek agama, sosial, dan budaya. Menurut Sayyid Muhammad Rasyid Ridha sendiri, pada masanya kondisi umat islam sudah begitu buruknya. Disamping pemerintahan mereka sudah runtuh dan bangsa-bangsa mereka sudah hancur, mereka sendiri selaku umat islam tidak dapat lagi mengetahui hakikat ajaran-ajaran agama mereka dan tidak pula mampu mengetahui ajaran-ajaran islam yang dapat membawa mereka pada kemajuan dan kehidupan yang baik di dunia.[2]Pada kurun itu agama sudah hilang ruhnya dan islam hanya menjadi simbol-simbol lahir yang tidak menyentuh dan tidak dapat membangkitkan etos kerja dan semangat. Sebaliknya Khurafat dan takhayul semakin mendominasi dan  berkembang, paham nasionalisme, sekularisme, sosialisme, kapitalisme, dan komunisme sudah mulai memasuki pemikiran sementara umat islam. Umat Islam juga jauh terbelakang dari umat kristen dibidang ilmu pengetahuan.

Menurut Rasyid Ridha, umat islam pada masanya dapat dibagi menjadi tiga golongan. Petama, golongan yang berpikiran jumud. Mereka ini menggangap bahwa ilmu agama dalah ilmu yang terdapat didalam kitab-kitab yang telah disusun oleh pemuka mzhab-mazhab dan aliran-aliran, seperti Ahlu Sunah, Syi’ah Zaydiyyah, dan Syiah Itsna ‘Asy’ariyyah. Menurut mereka siapa saja yang tidak mengikuti salah satu dari mazhab itu, dianggap tidak lagi dalam Islam. Kedua, golongan yang berkiblat pada kebudayaan modern. Menurut mereka syariat islam tidak cocok lagi diterapkan untuk masa kini,kalau ingin maju , umat Islam harus mengikuti Eropa dalam segala hal, baik dibidang ilmu pengetahuan, hukum, peraturan maupun moral. Ketiga, golongan yang menginginkan pembaruan Islam. Golongan ini menyerukan kepada umat islam agar kembali kepada Al Qur’an dan al-Sunah, namun dengan penafsiran baru yang sesuai dengan kemajuan Zaman, karena antara Islam dan kebudayaan modern tidak ada pertentangan.[3]

Kondisi yang dialami Umat Islam pada masa Rasyid Ridha itu tentu saja besar pengaruhnya terhadap para pemikir yang hidup pada masa tersebut untuk mengubah dan memperbaikinya sesuai dengan tuntutan zaman. Rasyid Ridha adalah salah seorang tokoh ulama, penulis, dan pemikir dari golongan ketiga yang terdorong untuk mengubah dan memperbaiki kondisi umat islam menjadi umat yang mampu melepaskan diri dari cengkeraman kaum imperialis dan menjadi umat yang mampu bersaing dengan umat-umat yang lain.

  1. KELAHIRAN SAYYID MUHAMMAD RASYID RIDHA

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan di Qalmun wilayah pemerintahan Tarablus Syam pada tahun 1282 H/1865 M. Dia adalah Muhammad Rasyid Ibn Ali Ridha Ibn Muhammad Syamsuddin Ibn Muhamad Bahauddin Ibn Manla Ali Khalifah. Keluarganya dari keturunan terhormat berhijrah dari Bagdad dan menetap di Qalmun. Kelahirannya tepat pada 27 Jumadil Tsani tahun 1282 H/18 Oktober tahun 1865 M.[4] Kota kelahirannya adalah daerah dengan tradisi kesalehan Sunni yang kuat, tempat tarekat-tarekat memainkan peranan aktifnya.[5]

Ayah dan Ibu Sayyid Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berasal dari keturunan al-Husayn putra Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah, Putri Rasulullah itu sebabnya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha menyandangg gelar al-sayyid di depan namanya dan sering menyebut tohoh-tokoh ahl al-bayt seperti Ali ibn Abi Thalib, al-Husyan dan Ja’far al –Shadiq dengan Jadduna (nenek moyang kami)[6].

  1. LATAR BELAKANG PENDIDIKAN

Semasa kecilnya (usia tujuh tahun) , Rasyid Ridha dimasukkan oleh orang tuanya ke madrasah tradisional di desanya, Qalamun, untuk belajar membaca Alquran, belajar menulis, dan berhitung. Berbeda dengan anak-anak seusianya, Rasyid kecil lebih sering menghabiskan waktunya untuk belajar dan membaca buku daripada bermain, dan sejak kecil memang ia telah memiliki kecerdasan yang tinggi dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Sayyid Muhammad Rasyid Ridha memperoleh pendidikan yang lebih modern di Madrasah Ibtidaiyyah al –Rusydiyyah di Tripoli. Di madrasah itu diajarkan ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu bumi  dan matematika. Bahasa pengantar adalah bahasa turki, karena madrasan ini adalah milik pemerintah yang bertujuan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang akan menjadi pegawai pemerintahan Turki Usmani.[7]

Oleh karena enggan menjadi pegawai  pemerintah, Rasyid Ridha kemudian keluar dari madrasah al –Rusydiyyah setelah lebih kurang satu tahun belajar di sana. Selanjutnya, pada tahun 1299  atau 1300 H, Rasyid Ridha memasuki Madrasah Wathaniyyah Islamiyyah yang didirikan dan dipimpin oleh Syekh Husayn al-Jisr seorang ulama besar Libanon yang telah dipengaruhi oleh ide-ide pembaruan yang digulirkan oleh Sayyid Jamal al-Din al-Afghani dan Syekh Muhammad Abduh.[8] Sang gurulah yang telah banyak berjasa dalam menumbuhkan semangat ilmiah dan ide pembaruan dalam diri Rasyid Ridha di kemudian hari. Di antara pikiran gurunya yang sangat berpengaruh adalah pernyataan bahwa satu-satunya jalan yang harus ditempuh umat Islam untuk mencapai kemajuan adalah memadukan pendidikan agama dan pendidikan umum dengan metode modern. Hal tersebut didasari kenyataan sekolah-sekolah yang didirikan bangsa Eropa saat ini banyak diminati oleh para pelajar dari seluruh penjuru dunia, padahal tidak disajikan pelajaran agama di dalamnya.

Namun, Rasyid Ridha tidak dapat lama belajar di sekolah ini karena sekolah tersebut terpaksa ditutup setelah mendapat hambatan politik dari pemerintah Kerajaan Usmani. Untuk tetap melanjutkan studinya, dia pun pindah ke salah satu sekolah agama yang ada di Tripoli. Meskipun sudah pindah sekolah, tetapi hubungan Ridha dengan guru utamanya saat di Madrasah Al-Wathaniyyah Al-Islamiyyah terus berlanjut.

Selain belajar pada syekh Husayn al-Jisr, Rasyid Ridha juga pernah belajar pada ulama-ulama besar yang lain, seperti Syekh ‘Abdulghani al-Rafi’i, Syekh Muhammad al-Qawaqiji, dan Syekh Mahmud Nasyabah. Kepada Syekh ‘Abdulghani al-Rafi’i, Syekh Muhammad al-Qawaqiji Rasyid Ridha belajar ilmu-ilmu bahasa Arab beserta sastranya dan tasawuf, sedangkan pada syekh Mahmud Nasyabah ia belajar fiqh al-Syafi’i dan hadits. Berkat didikan syekh Mahmud Nasyabah itulah pula, Rasyid Ridha kelak menjadi seorang pakar fiqh dan pakar hadits.

  1. PEMIKIRAN SAYYID MUHAMMAD RASYID RIDHA

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha sangat terpengaruh oleh Ihya Ulum ad Din karya al-Gazali. Kitab Ihya Ulum ad-Din membantu membentuk pandangannya bahwa umat muslim harus secara sadar menghayati (menginternalisasikan) keimanannya, dan melampaui ketaatan-ketaatan lahiriyah belaka, serta harus selalu menyadari implikasi etis dari tindakan-tindakannya. Kitab Ihya Ulum ad-Din mendorong Sayyid Muhammad Rasyid Ridha muda untuk berkonsentrasi kepada persiapan spiritual untuk kehidupan akhirat. Kitab tersebut tidak hanya menarik minatnya untuk berulang kali membacanya, tetapi telah menjadi gurunya yang pertama dalam membentuk kepribadiannya.[9]Sewaktu dalam pengaruh al-Ghazali itulah, kata Rasyid Ridha ia mengikuti tarekat Naqsyabandiyyah, mengamalkan ajaran-ajarannya, dan melaksanakan latihan-latihan ‘uzlah yang sangat berat.

Beberapa tahun kemudian setelah tekun menjalani kehidupan sufi dan mengamalkan ajaran-ajaran tarekat, Rasyid Ridha menyadari banyakanya bidah dan khurafat yang terdapat dalam ajaran-ajaran tasawuf dan tarekat tersebut. Karena itu, ajaran-ajaran tersebut ditinggalkannya. Bahkan, sikapnya terhadap ajaran-ajaran tasawuf dan tarekat, tidak hanya sampai disitu, tetapi ia membimbing masyarakatnya agar meninggalkan ajaran-ajaran yang telah bercampur baur dengan bidah dan khurafat tersebut.Yaitu dengan membuka pengajian untuk kaum pria dan pengajian untuk kaum wanita, menebang pohon-pohon yang dianggap keramat dan membawa berkah, dan melarang masyarakat mencari berkah dari kuburan-kuburan para wali atau bertawasul dengan para wali yang telah wafat.[10]

Perubahan sikap Rasyid Ridha terhadap ajaran taswuf dan tarekat muncul setelah ia mempelajari kitab-kitab hadits dengan tekun. Perubahan sikapnya terhadap ajaran-ajaran tersebut semakin terlihat dengan jelas setelah ia terpengaruh oleh ide-ide pebaharuan  Syekh Jamal al-Din al-Afghani dan Syekh Muhammad Abduh yang dimuat dalam majalah al-‘Urwah al-Wutsqa yang mereka terbitkan di Paris, Perancis.[11]Rasyid Ridha mulai membaca majalah tersebut ketika ia masih belajar di Tripoli.

Melalui surat kabar ini, Rasyid Ridha mengenal gagasan dua tokoh pembaharu yang sangat dikaguminya, yaitu Jamaluddin Al-Afghani, seorang pemimpin pembaharu dari Afghanistan, dan Muhammad Abduh, seorang pembaharu dari Mesir. Ide-ide brilian yang dipublikasikan itu begitu berkesan dalam dirinya dan menimbulkan keinginan kuat untuk bergabung dan berguru pada kedua tokoh itu.

Keinginan untuk bertemu dengan Al-Afghani ternyata belum tercapai, karena tokoh ini lebih dahulu meninggal dunia. Namun, ketika Muhammad Abduh dibuang ke Beirut pada akhir 1882, Rasyid Ridha berkesempatan berdialog serta saling bertukar ide dengan Abduh. Pertemuan dan dialog dengan Muhammad Abduh semakin menumbuhkan semangat juang dalam dirinya untuk melepaskan umat Islam dari belenggu keterbelakangan dan kebodohannya.

Di Lebanon, Rasyid Ridha mencoba menerapkan ide-ide pembaruan yang diperolehnya. Namun, upayanya ini mendapat tentangan dan tekanan politik dari Kerajaan Turki Usmani yang tidak menerima ide-ide pembaruan yang dilontarkannya. Akibat semakin besarnya tentangan itu, akhirnya pada  1898 M, Rasyid Ridha pindah ke Mesir mengikuti gurunya, Muhammad Abduh, yang telah lama tinggal di sana.

Di kota ini, Rasyid Ridha langsung menemui Muhammad Abduh dan menyatakan keinginannya untuk menjadi murid dan pengikut setia Abduh. Rasyid Ridha tidak hanya menjadi  murid yang paling dekat dan setia kepada Abduh tetapi menjadi mitra, penerjemah, dan pengulas pemikiran-pemikirannya.

  1. CITA – CITA BESAR

Beberapa bulan setelah menetap di Mesir, Rasyid Ridha mulai menerbitkan majalah al-Manar (Mercusuar) dengan persetujuan Muhammad Abduh. Majalah tersebut dipersiapkan untuk menjadi corong dan media bagi gerakan pembaruan islam dalam memajukan umat Islam dan membebaskan mereka dari belenggu penjajahan.

Melalui Tafsirnya, yaitu al-Manar Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berupaya mengaitkan ajaran-ajaran al-Qur’an dengan masyarakat dan kehidupan serta menegaskan bahwa islam adalah agama universal dan abadi, yang selalu sesuai dengan kebutuhan manusia disegala waktu dan tempat.

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha memiliki visi bahwasannya umat Islam harus menjadi umat yang merdeka dari belenggu penjajahan dan menjadi umat yang maju sehingga dapat bersaing dengan umat-umat lain dan bangsa-bangsa barat diberbagai bidang kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Beberapa ide-ide pembaruan yang dipublikasikan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha antara lain:

  1. Kemunduran umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan lantaran mereka tidak lagi menganut ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Perilaku mereka juga sudah banyak yang menyimpang dari ajaran Islam yang benar. Misalnya, anggapan yang menyatakn bahwa dalam Islam terdapat ajaran kekuatan Rohani yang membuat pemiliknya dapat memperoleh segala apa yang dikehendakinya. Padahal menurut ajaran agama, kebahagian dunia dan akhirat hanya dapat diperoleh melalui amal usaha yang sesuai sunatullah.[12]
  2. Kemunduran umat Islam juga disebabkan membudayanya paham fatalis (Jabbariyyah). Sebaliknya salah satu sebab kemajuan bangsa Eropa dalah sudah membudayanya paham ikhtiar (dinamis). Padahal Islam sendiri sebenarnya berisi ajaran yang mendorong umatnya untuk bersifat dinamis. Ajaran tersebut terkandung dalam kata jihad, yang berarti berusaha keras dan  bersungguh-sungguh dalam mencurahkan segenap pikiran, kekuatan, dan berkurban, baik dengan harta benda maupun dengan jiwa raga.
  3. Ilmu pengetahuan modern tidak bertentangan dengan Islam sudah sepantasnya umat Islam yang mendambakan kemajuan, siap mempelajarinya. Kemajuan yang pernah dicapai umat Islam pada zaman klasik dalah karena kemajuan mereka dibidang ilmu pengtahuan. Namun, ilmu pengetahuan tersebut telah diabaikan oleh umat Islam yang datang kemudian dan sebaliknya dikembangkan oleh bangsa barat. Akibatnya Islam mengalami kemunduran sedangkan barat mengalami kemajuan. Karena itu jika umat Islam mempelajari ilmu pengetahuan dari barat, mereka sebenarnya mempelajari kembali ilmu pengetahuan yang pernah dimiliki.
  4. Islam itu sederhana, baik masalah ibadah maupun masalah muamalah. Ibadah kelihatan ruwet, karena hal-hal yang sunah dan tidak wajib dijadikan hal-hal yang wajib.Hukum-hukum fiqih yang berkenaan dengan kemasyarakatan meski didasrkan pada al-Qur’an dan Hadits, tidak boleh dianggap absolut dan tidak dapat diubah. Hukum-hukum itu ditetapkan sesuai dengan suasana tempat dan zaman ia ditetapkan.
  5. Dalam masalah politik, kemunduran umat Islam dalam bidang ini adalah karena perpecahan, karena itu jika ingin maju maka harus mewujudkan persatuan dan kesatuan yang didasarkan pada keyakinan, bukan hanya didasarkan pada bahasa dan ethnis. Untuk itu, dia menyeru umat Islam agar bersatu kembali di bawah satu keyakinan, satu sistem moral, satu sistem pendidikan, dan tunduk dalam satu sistem hukum dalam satu kekuasaan yang berbentuk negara. Namun, negara yang diinginkannya bukan seperti konsep Barat, melainkan negara dalam bentuk khilafah (kekhalifahan) seperti pada masa Al-khulafa ar-Rasyidin. Dia menganjurkan pembentukan organisasi Al-jami’ah al-Islamiyah (Persatuan Umat Islam) di bawah naungan khalifah. Kiprah Rasyid Ridha dalam dunia politik secara nyata dapat dilihat dalam aktivitasnya. Ia pernah menjadi Presiden Kongres Suriah pada 1920, menjadi delegasi Palestina-Suriah di Jenewa tahun 1921. Ia juga pernah menjadi anggota Komite Politik di Kairo tahun 1925, dan menghadiri Konferensi Islam di Mekah tahun 1926 dan di Yerusalem tahun 1931.
  6. KARYA – KARYA MUHAMMAD RASID RIDHA

Majalah al-Manar mulai terbit pada tanggal 22 Syawal 1315 H/ 15 Maret 1898 M. Pada mulanya majalah tersebut terbit dalam bentuk tabloid, sekali dalam seminggu, kemudian setengah bulan sekali, kemudian sebulan sekali, dan kadang-kadang sembilan nomor dalam setahunnya. Majalah tersebut dapat diterbitkan  Rasyid Ridha seorang diri hingga akhir hayatnya. Apa yang telah dilakukan oleh Rasyid Ridha adalah prestasi besar yang sulit ditandingi orang lain. Selama al-Manar terbit, sebayak 34 jilid besar dan setiap jilidnya berisi 1000 halaman telah terkumpul seluruhnya.

Tafsir Al-Qur’an karya Rasyid Ridha itu berjudul Tafsir al-Qur’an al Hakim (Tafsir Al-Manar) bagian pertamanya, yaitu surat al-Fatihah sampai dengan surat al-Nisa ayat 125 merupakan hasil kerjasama dengan gurunya, Syekh Muhammad Abduh. Sedangkan bagian keduanya, yaitu dari surat al-Nisa ayat 126 sampai dengan surat Yusuf ayat 110 adalah hasil karyanya secara mandiri.

Karya-karya yang dihasilkan semasa hidup Rasyid Ridha pun cukup banyak. Antara lain, Tarikh Al-Ustadz Al-Imama Asy-Syaikh ‘Abduh (Sejarah Hidup Imam Syaikh Muhammad Abduh), Nida’ Li Al-Jins Al-Latif (Panggilan terhadap Kaum Wanita), Al-Wahyu Muhammad (Wahyu Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW), Yusr Al-Islam wa Usul At-Tasyri’ Al-‘Am (Kemudahan Agama Islam dan dasar-dasar umum penetapan hukum Islam), Al-Khilafah wa Al-Imamah Al-Uzma (Kekhalifahan dan Imam-imam besar), Muhawarah Al-Muslih wa Al-Muqallid (dialog antara kaum pembaharu dan konservatif), Zikra Al-Maulid An-Nabawiy (Peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW), dan Haquq Al-Mar’ah As-Salihah (hak-hak wanita Muslim).

Setelah berjuang dengan segala kecerdasan dan kemampuan yang ada padanya untuk kemajuan dan kejayaan Islam, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berpulang ke rahmatullah dalam usia 70 tahun pada kamis, 23 Jumadil al-Ula 1354 H/ 22 Agustus 1935 M.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha dilahirkan di Qalmun wilayah pemerintahan Tarablus Syam pada tahun 1282 H/1865 M. Dia adalah Muhammad Rasyid Ibn Ali Ridha Ibn Muhammad Syamsuddin Ibn Muhamad Bahauddin Ibn Manla Ali Khalifah. Ayah dan Ibu Sayyid Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berasal dari keturunan al-Husayn putra Ali bin Abi Thalib dengan Fatimah, Putri Rasulullah itu sebabnya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha menyandangg gelar al-sayyid di depan namanya dan sering menyebut tohoh-tokoh ahl al-bayt seperti Ali ibn Abi Thalib, al-Husyan dan Ja’far al –Shadiq dengan Jadduna (nenek moyang kami).

Rasyid Ridha mulai menerbitkan majalah al-Manar (Mercusuar) dengan persetujuan Muhammad Abduh. Majalah tersebut dipersiapkan untuk menjadi corong dan media bagi gerakan pembaruan islam dalam memajukan umat Islam dan membebaskan mereka dari belenggu penjajahan.

Melalui Tafsirnya, yaitu al-Manar Sayyid Muhammad Rasyid Ridha berupaya mengaitkan ajaran-ajaran al-Qur’an dengan masyarakat dan kehidupan serta menegaskan bahwa islam adalah agama universal dan abadi, yang selalu sesuai dengan kebutuhan manusia disegala waktu dan tempat.

Sayyid Muhammad Rasyid Ridha memiliki visi bahwasannya umat Islam harus menjadi umat yang merdeka dari belenggu penjajahan dan menjadi umat yang maju sehingga dapat bersaing dengan umat-umat lain dan bangsa-bangsa barat diberbagai bidang kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Beberapa ide-ide pembaruan yang dipublikasikan oleh Syekh Muhammad Rasyid Ridha antara lain: Kemunduran umat Islam dalam berbagai aspek kehidupan lantaran mereka tidak lagi menganut ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya, Kemunduran umat Islam juga disebabkan membudayanya paham fatalis (Jabbariyyah), Ilmu pengetahuan modern tidak bertentangan dengan Islam sudah sepantasnya umat Islam yang mendambakan kemajuan, siap mempelajarinya, Islam itu sederhana, baik masalah ibadah maupun masalah muamalah. Ibadah kelihatan ruwet, karena hal-hal yang sunah dan tidak wajib dijadikan hal-hal yang wajib, Hukum-hukum fiqih yang berkenaan dengan kemasyarakatan meski didasarkan pada al-Qur’an dan Hadits, tidak boleh dianggap absolut dan tidak dapat diubah. Hukum-hukum itu ditetapkan sesuai dengan suasana tempat dan zaman ia ditetapkan, Dalam masalah politik, kemunduran umat Islam dalam bidang ini adalah karena perpecahan, karena itu jika ingin maju maka harus mewujudkan persatuan dan kesatuan yang didasarkan pada keyakinan, bukan hanya didasarkan pada bahasa dan ethnis.

Karya – Karya Muhammad Rasid Ridha yang paling monumental ialah Majalah al-Manar. Selama al-Manar terbit, sebayak 34 jilid besar dan setiap jilidnya berisi 1000 halaman telah terkumpul seluruhnya, Tafsir Al-Qur’an karya Rasyid Ridha itu berjudul Tafsir al-Qur’an al Hakim (Tafsir Al-Manar).

Pengaruh pemikiran Rasyid Ridha dan juga para pemikir lainnya berkembang ke berbagai penjuru dunia Islam, termasuk Indonesia. Ide-ide pembaharu yang dikumandangkan banyak mengilhami semangat pembaruan di berbagai wilayah dunia Islam. Banyak kalangan ulama yang tertarik untuk membaca majalah Al-Manar dan mengembangkan ide yang diusungnya.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

A.Athaillah, Rasyid Ridha;Konsep Teologi Rasional dalam Tafsir al-Manar, (Jakarta : Erlangga, 2006)

Elizabeth Sirriyeh, Sufis and Anti Sufis diterjemahkan oleh Ade Alimah, dengan judul Sufi dan Anti-sufi, (Yogyakarta : Pustaka Sufi, 2003)

Fahd al-Rumi, Manhaj al Madrasah al-Aqliyyah al-Haditsah fi al-Tafsir, (Beirut : Mu’assasah al –Risalah, 1981 M)

Harun Nasution, Pembaruan Dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1996)

Ibrahim Ahmad al-Adawi, Rasyid Ridha al –Imam al-Mujahid, (Kairo:al-Muassasah Mishiyyah al-Ammah,t.th)

Muhammad ibn ‘Abdillah al-Salman, Rasyid Ridha wa Da’wah al-Syaykh Muhammad ibn ‘Abdulwahhab,(Kuwait : Maktabah al-Ma’la, 1409 H/1998 M)

Muhammad Ahmad al-Darniqah,  al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridha ’wa Ishlahatuh al-Ijtima’iyah wa al-Diniyyah, cetakan ke -1, (Beirut : Mu’assasah al-Risalah, 1406 H/1986 M)

Muhammad Imarah, Al-Masyru’ al-hadhari al-Islami diterjemahkan oleh Muhammad Yasar, LC dan Muhammad Hikam, LC dengan judul Mencari Format Peradaban Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005)

Rasyid Ridha, al-Wahy al- Muhammadi, (Kairo : Dar al- Manar, 1375 H/1995 M)

Rasyid Ridha, al-Manar, jilid ke -29, (Kairo : 1928 M)

www.suaramedia.com diakses pada tgl 18 Desember 2011

www.wikipedia.co.id diakses pada tanggal 18 Desember 2011


[1] Muhammad Ahmad al-Darniqah,  al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridha ’wa Ishlahatuh al-Ijtima’iyah wa al-Diniyyah, cetakan ke -1, (Beirut : Mu’assasah al-Risalah, 1406 H/1986 M) h.15

[2] Rasyid Ridha, al-Wahy al- Muhammadi, (Kairo : Dar al- Manar, 1375 H/1995 M) h. 19

[3] Rasyid Ridha, al-Manar, jilid ke -29, (Kairo : 1928 M) h.67

[4] Muhammad Imarah, Al-Masyru’ al-hadhari al-Islami diterjemahkan oleh Muhammad Yasar, LC dan Muhammad Hikam, LC dengan judul Mencari Format Peradaban Islam, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2005), h. 1

[5] Elizabeth Sirriyeh, Sufis and Anti Sufis diterjemahkan oleh Ade Alimah, dengan judul Sufi dan Anti-sufi, (Yogyakarta : Pustaka Sufi, 2003) h.146

[6] Fahd al-Rumi, Manhaj al Madrasah al-Aqliyyah al-Haditsah fi al-Tafsir, (Beirut : Mu’assasah al –Risalah, 1981 M) h.172

[7] Ibrahim Ahmad al-Adawi, Rasyid Ridha al –Imam al-Mujahid, (Kairo:al-Muassasah Mishiyyah al-Ammah,t.th) h.19

[8] Muhammad ibn ‘Abdillah al-Salman, Rasyid Ridha wa Da’wah al-Syaykh Muhammad ibn ‘Abdulwahhab,(Kuwait : Maktabah al-Ma’la, 1409 H/1998 M) h.155

[9] Ahmad Ibrahim al-Adawi, op.cit., h.36

[10] Muhammad ibn ‘Abdillah al-Salman, op.cit.,,h.36-38

[11] Ibid, h.198

[12] Harun Nasution, Pembaruan Dalam Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1996), h.72

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s