Membatlakan Puasa Karena Disuguhi Makanan oleh Tuan Rumah?


Untuk Kejadian Tersebut Terdapat 2 (dua) pendapat di kalangan ulama:
Pendapat pertama menyatakan bahwa membatalkan puasa sunah tidak diperbolehkan kecuali jika ada alasan syar’i. Alasannya, ia adalah bentuk taqorrub. Karena itu harus dijaga jangan sampai batal. Dalilnya adalah firman Alloh yang berbunyi,

“… janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu.” (Q.S. Muhammad: 33).

Karena itu, menurut mazdhab Hanafi dan Maliki kalaupun puasa tadi dibatalkan karena sebab tertentu, misalnya mendapat tawaran makan dari tuan rumah, maka puasa yang dibatalkan tadi harus diganti dengan puasa di hari yang lain. Dalilnya adalah hadis riwayat Aisyah ra. yang berkata, “Saya dan Hafshoh sedang berpuasa. Lalu, kami berdua ditawari makanan yang mengundang selera. Maka, kamipun memakannya. Tidak lama kemudian Rosululloh datang. Hafshoh lebih dulu bertanya kepada beliau, “Kami tadinya berpuasa. Lalu, kami ditawari makanan yang mengundang selera sehingga kamipun memakannya.” Mendengar hal itu beliau berkata, “Gantilah puasa tadi di hari yang lain.” (H.R. al-Tirmidzî 3/103).

Pendapat kedua menyatakan bahwa puasa sunah tersebut boleh dibatalkan tanpa wajib diganti. Pendapat ini menjadi pegangan madzhab Syafi’I dan dan Hambali. Pendapat ini diperkuat oleh sejumlah riwayat:
1. suatu ketika Aisyah ra. berkata, “Wahai Rosululloh, kita diberi hiys (kurma yang dicampur dengan samin dan susu).” Beliau berkata, “Bawalah kemari. Tadinya aku berpuasa.” Beliaupun memakannya. Dalam riwayat al-Nasâ’i ada tambahan yang berbunyi, “Puasa sunah seperti orang yang mengeluarkan hartanya untuk sedekah. Ia bisa terus mengeluarkannya dan bisa pula menahannya.” (H.R. Muslim dan tambahan al-Nasâ’i terdapat dalam Sunan-nya.
2. Abû Sa’id al-Khudzri ra. berkata, “Aku membuatkan makanan untuk Rosululloh saw. Lalu, beliau datang bersama sejumlah sahabatnya. Ketika makanan dihidangkan, ada dari mereka yang berkata, ‘Saya sedang berpuasa.’ Mendengar hal tersebut, Rosululloh bersabda, ‘Saudaramu telah mengundangmu dan telah berusaha menjamumu. Berbukalah! Gantilah puasa tersebut di hari yang lain jika engkau mau.’”(H.R. al-Bayhaqi).
Atas dasar itu, menurut pendapat yang kedua ini, karena puasanya adalah puasa sunah ia tidak wajib diganti. Akan tetapi, menggantinya hanya bersifat anjuran.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa membatalkan puasa sunnah lantaran disuguhi makanan tidaklah wajib. Artinya puasa tadi boleh dibatalkan dan boleh tidak. Jika dibatalkan, maka menurut pendapat pertama harus diganti dan menurut pendapat kedua tidak wajib diganti, namun sebaiknya diganti.

Wallohu a’lam bi al-showab.

(sumber: situs syariahonline)

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s