ISLAM DI INDONESIA DALAM SOROTAN DUNIA


Islam Indonesia dalam Sorotan Dunia

Oleh: Ala’i Najib

Alumni Islamic Studies Fakultas Teologi University of Leiden Belanda, dan visiting Fellow di East West Center University of Hawaii USA

Banyak orang non-Indonesia yang bertutur tentang Islam di Indonesia seringkali menggembirakan dan menimbulkan kebanggaan tersendiri. Hidup di Indonesia seringkali menimbulkan perasaan yang berbeda-beda. Sebagai muslim, suatu hari seperti hidup di negara muslim, suatu hari seperti di negara Kristen. Mengapa? Sebab, tidak ada dress code bagi perempuan muslim di sini. Para eksekutif dan pekerja kantor berjas rapi dengan rok kurang lebih satu lutut. Sebaliknya suatu hari dia menemui komunitas wanita muslim yang berpakaian dan berkerudung sangat rapat, sehingga seolah-olah dia ada di negara Islam.

Awal September 2003 dalam presentasi Islam Beyond Middle East di East West Center (EWC) Hawai. Saat itu disampaikan, Indonesia terutama, memang mendapat sorotan karena keunikannya, sebagai negara dengan jumlah populasi muslim terbesar memiliki model keberagaman tersendiri dengan mengawinkan budaya-budaya lokalnya dengan substansi Islam itu sendiri. Islam Indonesia, memang sudah menjadi perhatian dunia, entah dalam rangka kepentingan kolonial, akademik, budaya maupun politik.

Sorotan Islam Masa kolonial

Melihat periode ini sangatlah panjang. Namun, periode-periode ini bisa dilihat sebagai titik awal identitas Islam di Indonesia. Hal ini karena masuknya Islam di Indonesia yang ditandai dengan akulturasi budaya yang sangat kental, berjalan lancar dan tidak mengagetkan keberagamaan awal penduduknya. Islam melebur dengan budaya lokal, menangkap spirit penyebaran agama yang harus disampaikan tanpa kekerasan. Tak ada kafiyeh, jilbab, masjid berkubah layaknya di Timur Tengah, kalaupun ada itu dalam hitungan angka. Banyak kalangan dalam dan luar mengakui keberhasilan ini, lepas dari perdebatan apakah Islam dibawa oleh pedagang Gujarat atau dari orang-orang Arab langsung. Dari sinilah, citra Islam Arab tidak nampak di Indonesia, abad-abad belakangan barulah nampak identitas Arab itu, lagi-lagi bukan dalam jumlah yang mayoritas.

Selain gambaran politik Islam dan kolonial di masa itu, proses-proses penyebaran Islam di Nusantara yang memang tidak persis seiring waktu dan tempat dengan kolonialisasi juga menarik dikemukakan.

Pertama, sebagaimana dijelaskan di atas, akulturasi dan asimilasi budaya telah membentuk identitas Islam Indonesia sebagai agama pendatang. Identitas yang banyak disemangati oleh nilai toleransi itu telah membuat konfigurasi “anyar” antara agama yang datang dari Timur Tengah dan agama yang tunduk pada original culture tanpa menafikan substansi pesan “langit” agama itu.

Kedua, meski kemudian menjadi agama mayoritas, Islam tidak menjadi dominan di seluruh area Indonesia, banyak daerah menjadi konsentrasi agama-agama tertentu, misalnya; Manado untuk Kristen, Bali untuk Hindu dsb.Fenomena ini sesungguhnya mengajarkan, bahwa di antara yang berbeda, tetap ada harmoni, dan untuk melawan kekerasan atas nama agama, kuncinya terletak pada toleransi, seperti di masa lalu, sesuatu yang sangat sulit kita temukan pada masa sekarang. Selain hal-hal di atas, masih banyak contoh lain di masa lalu yang menjadi fondamen warna Islam di Indonesia.

Masa Kemerdekaan: Islam versus Komunis =Islam Komunis?

Yang menarik dari Islam masa ini adalah, era di mana gerakan komunis mulai mendapat momentumnya. Ketika ramai-ramai orang mempersepsikan komunis setali tiga uang dengan atheisme, komunisme di Indonesia malah berinteraksi secara baik-baik dengan kaum muslim. Kenapa? Karena komunisme adalah gerakan, model gerakan untuk memperbaiki ketidakberdayaan masyarakat, yang memang menjadi kondisi nyata bangsa Indonesia waktu itu. Presiden Soekarno sendiri memaklumatkan ideologi Nasakom, yang sama sekali bukan sebagai relasi agama komunisme tapi lebih sebagai perlawanan mengguritanya kapitalisme dan Soekarno merasa harus menemukan formula yang tepat mengatasi situasi keterpurukan ekonomi bangsa, belum stabilnya politik negara. Meski untuk itu, perkawanannya dengan negara-negara tetangga yang menjadikan komunis sebagai poros, barangkali banyak mengilhami pemikiran Soekarno dalam melihat persoalan di Indonesia.

Meski dunia lebih mencatat komunis di Indonesia sebagai gerakan kudeta, namun sebenarnya internalisasi nilai-nilai komunis dalam Islam menarik untuk ditelusuri. Beberapa dari mereka malah mencari titik persamaan antara keduanya, sebagai sesuatu yang oleh publik diantagoniskan, misalnya; keberpihakan terhadap yang lemah dan cita-cita mewujudkan masyarakat yang sejahtera.

Islam Soeharto, Islamisasi dan Islam Abangan

Tesa Clifford Gertz tentang kategori tiga muslim sebagai santri, abangan dan priyayi sebenarnya sudah lama terbantahkan. Meski analisanya tak sepenuhnya sahih, Gertz sesungguhnya telah melihat praktek-praktek keagamaan model masyarakat Jawa dibandingkan dengan konsep agamanya yang sejati/asli. Pada abangan, bisa dikatakan bahwa ada proses konversi yang tidak lengkap. Dalam waktu yang lama misalnya, orang-orang Jawa masih memelihara praktek tradisi Hindu dan menggunakan Islam dan Syariahnya hanya sebagai bungkus atau petunjuk formal dan wadah bagi kehidupan spiritual.

Pada era Soeharto, performance Islam Indonesia sebenarnya justru lebih pada kecurigaan kelompok-kelompok, pencatatan setiap pertemuan publik yang bersifat keagamaan, pembubaran organisasi yang dianggap menggerogoti Pancasila dan tindakan subversif. Baru pada era 90-an Islam nampaknya menemukan momentum gerakannya. Ini misalnya ditandai dengan lahirnya ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia) di tahun 1992, greening di level birokrasi meminjam istilah Hefner dalam “Civil Islam” menjadi gairah baru kehidupan muslim di Indonesia. Sejak itu, atribut-atribut Islam –para pengamat lebih sering menyebutnya sebagai simbol– menjadi warna keseharian kehidupan muslim. Pilihan memakai busana muslimah, misalnya, sudah menjadi bagian dari kehidupan publik,. Gerakan ini, terutama dimotori kaum muda dari universitas-universitas umum. Mereka menginginkan kehidupan yang khusu dengan menerapkan ajaran-ajaran yang fundamental seperti masa Rasulullah saw, terutama cara berpakaian. Dengan fenomena ini bertambah lagi warna Islam di Indonesia.

Kecenderungan-kecenderungan di atas, kemudian melahirkan Islam labeling radikal, fundamental, moderat, liberal dan sebagainya. Mengapa? karena identitas itu memudahkan penggambaran gerakan masing-masing. Apakah Islam di masa lalu yang lebih menunjukkan identitas Islam Indonesia kemudian lenyap? Jawabnya, tidak sepenuhnya. Namun gerakan yang paling banyak menarik media massa ini lebih sering ter-cover daripada Islam sejati/asli Indonesia sebelumnya. Meski awal-awal kemerdekaaan, kita tak melupakan gerakan DI/TII dan “kekejaman” kelompok Kartosuwiryo yang mencita-citakan berdirinya Islam di Indonesia.

Islam Indonesia Sebelum Tragedi 11 September

Studi Islam di Indonesia sebenarnya banyak menarik perhatian Islamist di luar negeri terutama tentang raksasa dua organisasi massa Islam; NU dan Muhammadiyah. Namun, meski Indonesia kaya dengan banyak intelektual muslim, dari pihak organisasi manapun, mereka jarang terkenal dalam dunia Internasional.Memang, Islamic studies di kelas-kelas Internasional banyak menjadikan Islam Indonesia menjadi obyek kajian, tapi mereka umumnya tidak terfokus pada satu tokoh. Studi-studi lebih diarahkan pada perkembangan Islam dalam kaitannya dengan kasus-kasus khusus, politik misalnya.

Pasca Soeharto, yaitu era reformasi nampaknya merupakan momentum untuk melahirkan ekspresi Islam masing-masing, NU dan Muhammadiyah tidak lagi menjadi dwi-tunggal yang mengundang perhatian banyak pengamat asing. Selain NU dan Muhammadiyah, realitasnya, ada banyak organisasi massa Islam di Indonesia, misalnya Persis atau Perti, namun memang tidak sebesar dua organisasi sebelumnya.

Sementara itu, seperti disinggung di atas, era reformasi adalah era keterbukaan yang memungkinkan orang untuk mengekspresikan pikiran termasuk cara keberagaamaan. Ambillah contoh misalnya; lahirnya Front Pembela Islam (FPI) dan MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Forum Komunikasi Islam Ahlussunnah wal Jamaah dengan Laskar Jihadnya, dan lain-lain. Masing-masing organisasi Islam ini lahir dengan karakternya masing-masing. Yang menarik, gerakan organisasi ini mampu menyedot perhatian media massa dengan coverage yang seluas-luasnya di media dalam dan luar negeri. Wajar saja, karena selain sangat kental dengan simbol, gerakannya yang lebih mengandalkan unjuk kekuatan dalam melawan sesuatu –di mana hal ini tidak dijumpai sebelumnya– bahkan banyak orang dirugikan atas pembenaran tindakannya yang mengatasnamakan agama dengan kata lain jihad.

Fenomena munculnya gerakan baru Islam ini juga didukung oleh menguatnya wacana penerapan syariat Islam yang dibarengi oleh kebijakan pemerintah dengan otonomi daerah masa presiden Abdurrahman Wahid. Policy ini lebih memberikan keleluasaan daerah untuk mengatur pemerintahnnya sendiri. Sejak inilah Islam Indonesia banyak dikenal lebih pada gerakannya, beberapa gerakan yang anarki dengan mengatasnamakan amar ma’ruf’ lebih sering didengar masyarakat daripada kegiatan-kegiatan ilmiah dan kajian-kajian untuk mengeksplorasi Islam. NU dan Muhammadiyah, malah sunyi dari publikasi.

Islam Indonesia Pasca 11 September: Merespon Amerika, Mencari Sekutu, Mencipta Enemi Baru

Tak ada yang menyangka, bahwa 11 September 2001 lalu, WTC di New York yang secanggih itu security-nya bisa hancur luluh dalam hitungan menit dan menggegerkan dunia. Banyak simpati dunia akan tragedi itu kepada Amerika. Presiden Megawati, bahkan, menjadi tamu pertama George Bush setelah peristiwa itu dan menyatakan dukungannya bahwa Indonesia di belakang setiap usaha untuk menumpas kekerasan/terorisme.

Namun apa yang terjadi? Setelah “malapetaka Amerika” ini, muncul misi Amerika; perang melawan teroris. Indonesia pasca tragedi itu, pernah dijuluki surga bagi teroris, dengan merujuk situasi gerakan Islam belakangan. Dikatakan bahwa otak pengeboman itu; Osama bin Leden, banyak mempunyai network dengan pentolan ormas-ormas yang lahir belakangan. Asumsi ini timbul karena meningkatnya gerakan Islam radikal di Indonesia. Mereka misalnya dikenali dengan ciri-ciri; penggunaan simbol-simbol Arab, sering mengerahkan massa, cita-cita menegakkan negara Islam dan lain-lain.

Bagi mereka, terutama mereka yang melihat perkembangan Islam di Indonesia belakangan, gejala ini memunculkan kekhawatiran tersendiri, terutama ketakutan matinya demokrasi di Indonesia. Bukan itu saja, gerakan-gerakan yang didanai secara swadaya, ini juga rentan akan kedekatannya dengan penyandang-penyandang dana dari Timur Tengah.

Kajian Islam Indonesia, Perlukah Dibuka Kelas Internasional?

Historiografi Islam di Indonesia sebenarnya banyak ditulis, baik oleh orang-orang Indonesia sendiri maupun pengamat asing. Banyak mahasiswa Indonesia maupun non-Indonesia yang studi di luar negeri mengambil spesifikasi Islamic Studies, dan mereka menulis tentang Islam Indonesia. Sebagai negara dengan jumlah populasi muslim terbesar di dunia dengan segala keragamannya, sudah saatnya kajian Islam Indonesia menjadi satu subyek sendiri. Bahkan, hal ini dapat menjadi bukti kekhasan Islam Indonesia di bumi sendiri.

Di Universitas Leiden Belanda, contohnya, meski bukan subyek yang wajib diambil, ada mata kuliah Dissemination Islam in Indonesia, yang mengkhususkan kajian Islam Indonesia abad ke-20. Pemikir-pemikir Islam Indonesia, jarang dikaji secara khusus seperti mereka mengkaji Mohammed Arkoun, Hassan Hanafi atau tokoh yang lain. Melihat contoh demikian, sudah saatnya didorong “Studi Islam Indonesia” menjadi bagian dari mata kuliah yang harus ditawarkan di Islamic Studies kelas Internasional.

Hal ini, juga agar jangan sampai kelas internasional Indonesia tak beda dengan kelas internasional di luar Indonesia yang mengkaji tokoh-tokoh yang sama. Usaha ini bukan hanya mendorong tumbuhnya pemikir-pemikir muslim dengan gagasan yang brilian dan selalu menjawab problem keberagamaan kini, namun juga mempromosikan Islam Indonesia, paling tidak, sudah dielaborasi di negeri sendiri.

Penutup

Wajah Islam di Indonesia selalu mengalami perubahan bentuk dari waktu ke waktu. Masa pra kemerdekaan sebenarnya tak jauh dengan masa-masa Soeharto. Pada masa reformasilah, saya kira yang banyak mendapat sorotan dunia. Saat itu, wajah Islam kita tiba-tiba total menjadi Islam yang “garang”, yang suka menunjukkan kekuatan dan banyak mencita-citakan mati syahid (martir) kalau berhasil melenyapkan orang yang didefinisikan sebagai musuh.

Meski citra ini mereduksi wajah Islam Indonesia yang toleran dan ramah, publik atau dunia mulai melihat titik terang Islam di Indonesia. Mereka misalnya sering mencari rujukan-rujukan model keberagamaan seperti di NU dan Muhammadiyah. Sebutlah yang agak kontroversial misalnya, undangan Presiden Bush sewaktu ke Bali dan safari dubes AS ke beberapa tokoh dan pesantren.

Di sisi lain, dalam konteks dinamika kelimuan di Perguruan Tinggi Agama Islam, kiranya secepatnya dapat menciptakan kurikulum untuk mengenal Islam Indonesia yang sejati/asli. Terlebih bila terdapat kelas Internasionalnya. Islam yang sejati/asli Indonesia, dimaksudkan sebagai penggambaran identitas Islam yang hanya dapat ditemukan di Indonesia. Pemikir-pemikir dunia Islam sudah tak asing lagi bagi kalangan mahasiswa Perguruan Tinggi Islam maupun akademisinya. Terutama, bahwa pemikiran mereka menjadi silabi wajib di perguruan Tinggi.

http://www.ditpertais.net/jurnal/vol62003f.asp

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s