Bercinta Seperti Rasulullah


Bercinta Seperti Rasulullah (Bagian I)

Perihal hubungan seksual (bercinta), Rasulullah SAW memberi petunjuk yang sangat sempurna, beralas etika dan estetika Rabbaniyah (ketuhanan). Bercinta tidak saja untuk menyehatkan jiwa, namun juga memberi kepuasan serta kenikmatan jiwa. Pitutur Rasulullah SAW tentang bercinta (senggama) adalah nasehat paripurna, utamanya demi menjaga kesehatan tubuh, mental, dan spiritual, berikut mewujudkan tujuan bersenggama itu sendiri. Diantara tujuan hubungan seksual menurut ajaran Islam ialah:
1. Melahirkan dan menjaga kelangsungan keturunan. Dengan kelahiran putra-putri buah senggama, nantinya diharapkan akan lahir generasi penerus bagi keluarga dan kommunitas serta kesinambungan suatu bangsa;
2. Mengeluarkan air (sperma) berdampak positif bagi tubuh. Sebab apabila iar sperma dibiarkan mengendap di dalm tubuh tanpa disalurkan ke ladang tempat bercocok tanam (fitrah penyaluran), akan berdampak buruk bagi tubuh maupun mental seseorang;
3. Media untuk menyalurkan hajat, guna merengkuh kenikmatan surga duniawi. Bedanya, bersenggama di dunia bisa melahirkan anak, sedang di surga keabadian tidak akan membuahkan anak, semua itu harus dilakukan dengan cara yang benar dan baik, sesuai dengan etika dan estetika, serta aturan luhur yang selaras dengan nilai-niilai ajaran Islam.
Etika Sebelum Bercinta

Ajaran Islam mengajarkan etika senggama, yang harus dipahami setiap Muslim. Ada banyak ayat al-Quaran dan Sunnah Nabi yang menuturkan masalah etika bercinta ini. Karenanya, sebelum bercinta, setiap Muslim harus memperhatikan etika (adab) dan prasyarat bersenggama sebagai berikut:

Pertama, Tidak Menolak Ajakan Bercinta. Secara tabiat maupun fitrah, para lelaki lebih agresif, tidak memiliki energi kesabaran, serta kurang bisa menahan diri dalam urusan making love ini. Sebaliknya, para wanita cenderung bersikap pasif, pemalu, dan kuat menahan diri. Oleh sebab itu, diharuskan bagi wanita menerima dan mematuhi ajakan suami untuk bercinta. Dalam sebuah hadis dituturkan, Rasulullah SAW bersabda: Jika seorang istri dipanggil oleh suaminya karena hajat biologisnya, maka hendaknya segera datang, meski dirinya sedang sibuk (HR Turmudzi). Ajaran Islam tidak membenarkan perilaku para istri yang menolak ajakan suami mereka untuk bercinta. Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda: Allah melaknat wanita yang menunda-nunda, yaitu seorang istri ketika diajak suaminya ke tempat tidur, tetapi ia berkata, ‘nanti dulu’, sehingga suaminya tidur sendirian (HR Khatib). Dalam hadis lain dituturkan: Jika suami mengajak tidur istrinya, lalu sang istri menolak, yang menyebabkan sang suami marah kepadanya, maka malaikat akan melaknat istri tersebut sampai pagi tiba (HR Bukhari dan Muslim).

Kedua, Bersih dan Suci. Haid adalah penyakit bulanan yang tidak suci, wanita yang sedang haid berarti tidak suci. Karenanya, para suami yang istri mereka sedang mengalami datang bulan dilarang mensetubuhinya selama waktu haid. Manakala darah haid sudah berhenti, maka wajib bagi wanita membersihkan tubuhnya dengan air. Kemudian mengambil ‘secuil’ kapas atau kain, lalu melumurinya dengan kasturi atau bahan pewangi lainnya yang beraroma semerbak menawan, kemudian membilas bagian tubuh yang terlumuri darah saat haid, sehingga tidak ada lagi bau tak sedap pada tubuh sang wanita. Dalam sebuah riwayat dari Aisyah Ra dituturkan, suatu hari, ada seorang wanita bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang cara bersuci (membersihkan diri) sehabis datang bulan. Rasulullah SAW bertutur kepada wanita tersebut: Ambillah bahan pewangi dari kasturi. Bersihkan dirimu dengannya. Wanita itu bertanya: Bagaimana caraku membersihkan tubuh? Rasulullah SAW menjawab: Bersihkan tubuhmu dari noda haid. Wanita itu bertanya lagi: Bagaimana caranya? Rasulullah SAW menjawab: Subhanallah, bersihkan dirimu! Aisyah Ra melanjutkan penuturannya: Aku lantas membisiki wanita itu, ‘Bilas tubuhmu yang terlumuri darah haidmu dengan pewangi kasturi’ (HR Bukhari).

Allah Azza wa Jalla juga menyatakan di dalam firman-Nya, bahwa syarat untuk melakukan hubungan badan ialah harus dalam kondisi suci. Kesucian tubuh dari ‘penyakit’ haid adalah demi mewujudkan seks sehat, sebagaimana firman-Nya: Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah. Haid itu adalah kotoran (penyakit). Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS. al-Baqarah/2: 222).

Rasulullah SAW juga mengingatkan kepada para suami, agar tidak menyetubuhi istri mereka dalam keadaan nifas dan haid. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang bersenggama dengan wanita yang sedang haid, atau menyetubuhi wanita dari dubur (lubang anus)-nya, atau mendatangi paranormal (ahli tenung), dan mempercayai ramalannya, Maka sejatinya ia telah kufur (ingkar) dengan apa-apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW (HR Abu Daud). Dalam riwayat lain dituturkan, Rasulullah SAW bersabda: Datangilah istrimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi awas (jangan menyetubuhi) pada dubur dan (jangan pula) dalam keadaan haid (HR Akhmad dan Tirmidzi). Lain daripada itu, selain harus suci – tidak haid dan nifas – pasangan Muslim harus bersih-bersih diri sebelum bercinta, agar tubuh mereka bersih dan percintaan yang dilakukan sehat.

Ketiga, Bercinta Sesuai Aturan Syariat. Salah satu tujuan making love (bercinta) adalah untuk melahirkan keturunan. Dan proses kelahiran hanya terjadi manakala terjadi pembuahan sperma laki-laki dan perempuan dalam rahim. Karenanya, bercinta harus dilakukan dengan cara yang benar, yatitu melalui tempat yang semustinya, bukan melalui anus (dubur) maupun lisan (oral sex) – sebagaimana yang jamak dilakukan orang-orang yang memiliki kelainan seksual, serta orang yang tidak paham niali-nilai agama. Lain daripada itu, bersenggama tidak sesuai aturan sama halnya menafikan kehormatan wanita yang disetubuhinya. Dan cara seperti itu mustahil bisa melahirkan keturunan. Ajaran Islam memberi syarat, bahwa senggama harus ditempatkan pada tempat yang semustinya, yaitu vagina wanita, bukan melalui anus (dubur) atau mulut wanita (seks oral). Sebab percintaan yang dilampiaskan pada tempat selain vagina, mustahil dapat membuahkan keturunan. Oleh sebab itu, Allah Azza wa Jalla berfirman: Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki (QS. al-Baqarah/2: 223).

Keempat, Berhias Diri. Diantara syarat bercinta ialah masing-masing pasangan – suami istri – harus berhias diri untuk menyenangkan dan menggairahkan percintaan yang hendak dilakukan. Diantara cara berhias diri dalam bercinta adalah:
1. Mambagusi bagian tubuh, yang merupakan lima organ fitrah, sebagaimana dituturkan Rasulullah SAW: Lima hal yang termasuk fitrah (sesuci), yakni mencukur kumis, mencukur bulu ketiak, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, dan khitan.
2. Menggunakan wewangian, yang paling utama adalah kasturi. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa tatkala seorang sahabat yang memberitahu Rasulullah SAW tentang adanya seorang wanita yang memerciki cincinnya dengan kasturi, Rasulullah SAW bersabda: Kasturi adalah sebaik-baik wewangian.
3. Memakai celak, dan jenis celak terbaik ialah yang terbuat dari bahan itsmid. Abdullah bin Abbas meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya sebaik-baik celak kalian adalah yang terbuat dari bahan itsmid. Ia dapat menajamkan penglihatan, serta menumbuhkan rambut. Al-Qur’an juga mengisyaratkan anjuran berhias diri bagi kaum wanita, sebagaimana firman-Nya: Orang-orang yang meninggal dunia diantaramu dengan meninggalkan isteri-isteri (hendaklah para isteri itu) menangguhkan dirinya (ber-‘iddah) empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah habis ‘iddahnya, maka tiada dosa bagimu (para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut. (QS. al-Baqarah/2: 234) Sayyid Qutub dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa redaksi al-Qur’an membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang patut adalah bukti otentik, dibolehkannya bagi kaum wanita untuk berhias diri, hal mana yang demikian itu dilakukan dengan tujuan agar datang lelaki meminangnya.
Kelima, Berdoa. Diantara etika seks dalam Islam ialah membaca doa sebelum melakukan persetubuhan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas dituturkan, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Jika salah seorang diantara kalian hendak mencampuri istrinya, maka hendaknya sebelum senggama membaca doa: Bismillah, Allahumma jannibnaa asy-syaithan, wa jannib asy-syaithana ma ruziqnaa (Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari Setan. Dan jauhkan setan dari apa-apa yang Engkau karuniakan kepada kami (anak keturunan). Dengan memanjatkan doa, diharapkan anak yang lahir dari buah percintaan tidak goyah diperdaya setan, akan tetapi serta selalu dekat kepada Allah.

Keenam, Mencari tempat bercinta yang nyaman dan merahasiakan apa yang terjadi diantara suami istri pada waktu bercinta. Diantara syarat bercinta dalam Islam ialah mencari tempat yang nyaman dan merahasiakan apa yang terjadi pada saat bercinta, baik istri maupun suami, tidak diperkenankan menceritakan ‘geliat’ percintaan yang dilakukannya kepada orang lain. Dalam sebuah hadis riwayat Abu Said Khudri, ia menuturkan, Rasulullah SAW bersabda: Selazimnya bagi kaum lelaki diantara kalian yang hendak memenuhi hajat biologisnya, mencari tempat yang nayaman, jauh dari hiruk pikuk keluarganya, dan menutup pintu rapat-rapat, serta mengenakan sehelai kain, barulah bercinta (bersetubuh). Kemudian apabila telah selesai bercinta, hendaknya tidak menceritakan hubungan badannya kepada orang lain. Selazimnya bagi kaum wanita diantara kalian, yang hendak memenuhi hajat biologis, mencari tempat yang nyaman, menutup pintu rapat-rapat, dan mengenakan sehelai kain untuk menutup tubuhnya. Dan jika selesai memuaskan dahaga cinta, hendaknya tidak menceritakan hubungan intimnya kepada yang lain. Salah seorang wanita berujar: Demi Allah, wahai utusan Allah, kebanyakan daripada kaum wanita menceritakan apa yang mereka alami saat senggama kepada yang lain, serta jamak melakukan percintaan di tempat terbuka. Rasulullah SAW berkata tegas. Janganlah kalian melakukan hal seperti itu – menceritakan sesuatu saat senggama dan bersetubuh di tempat terbuka, serta bertelanjang bulat. Sebab perbuatan seperti itu, sama persisnya dengan perbuatan setan pria bertemu dengan setan wanita di tengah jalan, lalu bersetubuh di tempat terbuka, setelah setan pria selesai melampiaskan dahaga seksnya, lantas meninggalkan si wanita begitu saja. Rasulullah SAW juga meyerukan untuk mengenakan kain saat bercinta, sebagaimana sabdanya: Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla adalah maha lembut, maha malu, maha menutup diri. Dia mencintai rasa malu dan menutup aurat. Menutup aurat, tidak saja dalam ‘laku’ kehidupan di ruang publik, tetapi juga saat bercinta.

Ketujuh, Tidak bercinta saat melakukan iktikaf atau sedang dalam kondisi berihram. Orang yang sedang menjalankan iktikaf di masjid tidak boleh bersenggama, demikian pula orang yang sedang berihram, juga tidak boleh bercampur dengan pasangannya, sebagaimana diwartakan al-Qur’an: Janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam masjid. Itulah larangan Allah, maka jangnlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa (QS. al-Baqarah/2: 187). Usman bin Affan meriwayatkan, bahwasanya Rasulullah SAW bertutur: Orang yang sedang melaksanakan ibadah Ihram tidak boleh bersenggama, maupun menikah atau melamar (HR Muslim). Dalam riwayat Turmudzi disebut dengan redaksi: Saat berihram dilarang bersetubuh.

Kedelapan, tidak bercinta dengan istri yang sedang datang bulan (haid). Ajaran Islam melarang pasangan suami istri bercinta saat sang istri sedang datang bulan. Sebab haid adalah penyakit, dikhawatirkan bayi yang lahir dari buah senggama pada kondisi seperti itu akan tidak sempurna (cacat). Allah menjelaskan dalam al-Qur’an: Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: “Haid itu adalah kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereke, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan meyukai orang-orang yang mensucikan diri (QS. al-Baqarah/2: 222). Ajaran Islam juga melarang suami menggauli istrinya ketika dalam keadaan nifas – usai melahirkan. Alasannya jelas, bahwa bercinta dalam ajaran Islam adalah termasuk laku ibadah, karenanya harus dilakukan pada waktu kondisi baik.

Kesembilan, memperhatikan kondisi fisik. Waktu yang paling tepat untuk melakukan hubungan badan adalah saat kondisi fisik dalam keadaan fit (segar bugar), yakni pencernaan makanan lancar, tensi tubuh seimbang antara panas dan dingin, kondisi perut tidak kenyang dan tidak lapar. Sebab bersenggama dalam keadaan tubuh tidak fit, pencernaan makanan tidak lancar, tensi tubuh terlalu panas maupun terlalu dingin, perut terlalu lapar maupun kenyang, akan membuat hububgan badan kehilangan maknanya, dan tidak bisa dinikmati bahkan melahirkan madharat (mara bahaya). Bersenggama dalam keadaan perut lapar lebih berbahaya ketimbang perut dalam keadaan kenyang. Lain daripada itu, tidak akan bisa merengkuhi nikmat senggama, lebih-lebih memberi kepuasan seksual kepada pasangan hidup. Rasulullah SAW bersabda: Jika seseorang diantara kamu bersenggama dengan istrinya, hendaklah ia lakukan dengan penuh kesungguhan. Kemudian, kalau ia telah menyelesaikan kebutuhannya sebelum istri mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (kemaluannya), sampai istrinya menemukan kepuasan (HR Abdul Razaq).

Bercinta Seperti Rasulullah (Bagian II)

Seperti yang telah dibahas di bagian I mengenai perihal hubungan seksual (bercinta) yang dituturkan oleh Rasulullah SAW, di bagian II ini akan dibahas mengenai etika saat bercinta dan etika sesudah bercinta.

Etika Saat Bercinta
Hubungan suami istri dalam Islam diatur dengan peraturan yang santun dan penuh etika, sehingga senggama yang dilakukan serasa indah dan nikmat. Diantara etika yang harus diperhatikan pasangan suami istri yang menyalurkan hasrat biologisnya ialah:

Pertama, Pemanasan Cinta (fore play). Dalam sebuah hadis dituturkan, Rasulullah SAW bersabda: Seseorang diantara kamu janganlah sekali-kali menyetubuhi istri seperti seekor hewan bersenggama, tetapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan (pemanasan). Salah seorang sahabat ada yang bertanya, Apakah perantaraan itu? Rasulullah SAW berujar: Yaitu ciuman dan ucapan romantis (HR Bukhari dan Muslim). Cumbu rayu sebelum bercinta merupakan alat vital membangkitkan gairah seksual. Maka selazimnya bagi seorang suami untuk melakukan ‘gerakan’ pemanasan sebelum bercinta, dengan bisikan kata-kata manis nan mesra kepada sang istri, semisal: memuji kecantikannya, kemulusan tubuhnya, mengapresiasi dedikasi dan ketaatannya, agar sang istri benar-benar tersanjung dan fokus dengan percintaan yang hendak dilakukan. Dengan demikian, jiwa sang istri bakal menyatu dengan jiwa sang suami dalam bercinta.

Setelah jiwa sang istri terpanggil (muncul gairah) untuk bercinta, hendaknya sang suami beralih dari ‘bahasa kata’ ke ‘bahasa gerak’. Caranya, dengan mencium kening sang istri, mengulum bibirnya dengan penghayatan yang utuh, lalu menyentuh bagian-bagian tubuh sensitif wanita, mendekap erat tubuh sang istri, merasakan detak nafasnya, sehingga keduanya tidak saja lekat secara ragawi, namun juga secara ruh. Rasulullah SAW sangat memperhatikan pemanasan cinta ini, sebagaimana tersirat dalam sabdanya: Janganlah sampai salah seorang diantara kalian menggauli isterinya seperti binatang, melainkan hendaknya dilakukan pemanasan diantara keduanya. Salah seorang sahabat bertanya: Apakah sejatinya yang dimaksud dengan pemanasan itu, wahai utusan Allah? Rasulullah SAW menjawab: Ciuman dan kata-kata rayuan (HR al-Dailami). Bahkan dalam hadis yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah, Rasulullah SAW dengan tegas melarang bercinta (senggama) yang tidak didahului dengan pemanasan cinta. Jabir menandaskan: Rasulullah SAW melarang persetubuhan sebelum dialkukan cumbu rayu (pemanasan cinta).

Seorang suami selazimnya mengetahui bagian-bagian tubuh wanita yang erotis, dan ‘menjelajahinya’ (menyentuhnya) saat bercinta, itu dilakukan demi menggapai kenikmatan senggama. Diantara bagian-bagian sensitif dan erotis tubuh wanita ialah: kening, pelupuk mata, hidung, pipi, tengkuk, leher, daun telinga dan belakang telinga, puting payudara, bibir dan lidah, mulut bagian dalam, paha, ketiak, perut terutama pusar perut, daerah sekitar kemaluan (vagina), tumit. Bagian-bagian tubuh tersebut merupakan zona erotis yang musti disentuh para suami, guna membangkitkan rangsangan seksual pada saat bercinta. Hubungan intim antara suami istri sering hambar (tak bernilai) atau bahkan gagal, oleh sebab mengabaikan pemanasan cinta (fore play) tersebut. Sebab senggama tanpa pemanasan hanya bersetubuh. Sedang bercinta perlu ‘kebangkitan’ rasa dan ruh.

Kedua, Mengulum dan Mengisap Lidah. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Dawud dituturkan, bahwa sesungguhnya saat bercinta Rasulullah SAW mencium dan mengulum bibir Aisyah. Rasulullah SAW juga mengisap lidah istri terkasihnya tersebut (HR Abu Dawud). Mengulum bibir dan mengisap lidah adalah tanda kepasrahan seutuhnya dalam bercinta. Cara bercinta seperti ini juga membantu para suami untuk tetap ‘perkasa’ (digdaya) dalam hubungan intim. Lebih daripada itu, kuluman dan hisapan juga menambah rasa nikmat senggama, oleh sebab bersatunya nafas pasangan suami istri yang bersetubuh. Karenanya, sebelum bercinta para suami dan istri disunnahkan bersih-bersih diri. Lain daripada itu, kuluman bibir dan isapan lidah akan membuat istri terpacu untuk pasrah jiwa raga secara utuh kepada sang suami. Dan kepasrahan yang utuh dalam bercinta akan melapangkan jalan bagi raihan kenikmatan hakiki senggama.

Ketiga, Tenang dan Lembut. Hubungan intim dengan istri harus dilakukan dengan tenang dan lembut. Masing-masing diantara suami istri tidak seharusnya berbuat gaduh, semisal dengan bersuara untuk mengekspresikan kenikmatan yang direguknya, lebih-lebih tergesa-gesa dalam ‘menyentuhkan’ organ vital ke pasangannya. Ketika sang suami hendak memasukkan penis ke dalam vagina istrinya, hendaknya dilakukan dengan tenang dan lembut. Masing-masing harus membaca basmalah. Ketenangan dan kelembutan dalam bercinta sangatlah penting, sebab hal itu akan menyembulkan rasa dan menghadirkan kenikmatan yang utuh, sehingga senggama yang dilakukan bisa melahirkan kepuasan. Dalam hadis yang diriwayatkan Ummu Salamah, dituturkan, bahwa saat bercinta Rasulullah SAW berpesan kepada istrinya untuk tenang. Rasulullah SAW lalu memejamkan mata istrinya, dan menutup kepala sang istri, sambil berujar lembut: Tenanglah engkau wahai belahan jiwaku.

Keempat, Bercinta dengan Posisi Terbaik. Dalam bersenggama, hendaknya diperhatikan dengan seksama posisi bercinta, agar laku senggamanya tidak keluar dari aturan syariat Islam, atau bahkan dimurkai Allah. Rasulullah SAW bersabda: Datangilah istrimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi awas (jangan menyetubuhi) pada dubur dan (jangan pula) dalam keadaan haid (HR Ahmad dan Tirmidzi). Dalam ajaran Islam posisi bercinta terbaik ialah: suami berada di atas dengan posisi istri terlentang di bawah tubuh sang suami, laksana hamparan. Dalam sebuah riwayat dituturkan: Anak bakal menjadi milik yang menjadi hamparan (istri). Posisi bercinta yang seperti itu, tidak saja membuat para suami leluasa bergerak, namun juga membuat para istri merasa nyaman, dan merasakan kepuasan seksual. Sebab dengan posisi bercinta seperti itu, memungkinkan alat kelamin sang suami menancap dalam-dalam ke vagina sang istri. Andaipun penis sang suami berukuran besar, ‘lahan’ sang istri bisa menampungnya secara utuh, sebab paha sang istri bisa dihamparkan seluas mungkin. Lebih daripada itu, dengan posisi seperti ini, masing-masing pasangan bisa berimprovasi dalam bercinta.

Karenanya, bani Hawa (kaum wanita) disebut juga al-Firasy (permadani), sebagaimana dituturkan sang Rasulullah SAW: Membuat anak adalah dengan permadani. Ungkapan Rasulullah SAW tersebut merupakan sebuah kiasan (metafora) serta penegasan bahwa dengan posisi perempuan berada di bawah saat bersetubuh, akan mempercepat proses pembuahan janin yang membuahkan (dapat melahirkan) anak, berikut merupakan penegasan akan ketinggian kaum laki-lai terhadap kaum wanita, sejalan dengan pesan al-Quran: Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (QS al-Nisa’ / 4: 34). Kaitannya dengan posisi bersenggama ini, Allah berfirman dalam pesan al-Quran: Mereka itu adalah pakain bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka (QS al-Baqarah / 2: 187).

Ada sebagian pasangan suami istri yang suka posisi wanita di atas dan laki-laki di bawah. Posisi semacam itu jelas tidak sesuai dengan posisi normal dan bertentangan dengan kodrat penciptaan laki-laki dan perempuan, serta berseberangan dengan ‘hukum’ kelaki-lakian dan kewanitaan. Posisi semacam itu banyak melahirkan madharat (risiko bahaya), sebab akan menyulitkan keluarnya sperma, lebih daripada itu, air sperma yang keluar tidak akan tertampung ke ovum dalam vagina perempuan. Bahaya lainnya ialah tumpahnya kotoran-kotoran dari vagina perempuan ke penis serta tubuh laki-laki, juga sperma laki-laki tidak akan sampai ke rahim perempuan, yang menyebabkan tidak adanya pembuahan janin. Apabila tidak ada pembuahan, bagaimana mungkin akan terjadi kehamilan dan kelahiran? Lain daripada itu, secara kodrati posisi perempuan dalam hal seksualitas ini adalah sebagai objek sedangkan laki-laki adalah subjek, demikian pula secara kodrati laki-laki lebih kuat ketimbang perempuan. Secara semantis, logikanya, subjeklah yang mempola objek, bukan objek yang mengatur subjek.

Dalam sebuah riwayat dituturkan, kaum Ahlul Kitab (pemeluk Yahudi dan Nasrani) menggauli perempuan mereka dari samping, bukan dari atas atau bawah, menurut pengakuam mereka posisi dari samping itu sangat menguntungkan bagi wanita, serta gerakan wanita jadi lebih ‘trengginas’ (gesit) dalam bersetubuh. Dikisahkan pula, kaum tradisional Quraisy dan Anshar jamak mulai mencumbu perempuan mereka dari arah bagian belakang kepala. Komunitas Yahudi memprotes cara bercinta komunitas Quraisy dan Anshar tersebut, sehingga turunlah ayat al-Quran: Istri-istri kamu adalah bagaikan tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tenah tempat bercocok tanam-mu itu bagaiman saja kamu kehendaki (QS al-Baqarah / 2: 223).

Dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim, dituturkan hadis yang diriwayatkan Jabir bin Abdullah. Ada seorang pemeluk Yahudi berkata: Jika seorang menggauli istrinya dari arah belakang dengan cara memangkunya, maka anaknya akan lahir cacat mental, maka turunlah ayat ayat al-Quran: istri-istri kamu adalah bagaikan tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja kamu kehendaki. (QS al-Baqarah / 2: 223). Imam Muslim juga meriwayatkan, kalau si laki-laki suka, ia bisa mengangkat bahu si perempuan saat dipangku, kalau tidak suka tidak perlu diangkat, yang penting zakarnya tidak dimasukkan kepada selan vagina. Adapun bersenggama dengan cara-cara seperti binatang, oral seks, sodomi, serta gaya-gaya ‘liar’ lainnya, sangat dikecam para nabi dan rasul terdahulu, dan jelas dilarang keras oleh agama.

Kelima, Bercinta pada Tempatnya. Hubungan intim harus dilakukan sesuai dengan fitrah dan kodrat penciptaan. Pria sebagai makhluk pejantan, saat bersenggama harus menyalurkan hasrat kelaki-lakiannya pada tempat yang benar pada tubuh wanita, yaitu melalui vagina. Ajaran Islam melarang keras hubungan seksual yang dilampiskan dengan cara sodomi – bersenggama melalui anus, atau oral maupun cara-cara seks yang menyimpang dari kodrat insaniah. Rasulullah SAW bersabda: Datangilah istrimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi awas (jangan menyetubuhi) pada dubur dan (jangan pula) dalam keadaan haid (H.R. Ahmad dan Tirmidzi). Sebagai makhluk yang dikaruniai akal, sungguh tidak logis manusia bercinta dengan cara binatang.

Para alim nan bijak menuturkan: Meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya adalah perbuatan zalim. Waraskah makhluk yang mengaku sebagai Manusia bercinta meniru tabiat binatang? Lihatlah kambing, sebelum bersetubuh, kambing jantan mencium dan menjilat kelamin kambing betinanya. Lihatlah cara senggama manusia-manusia Barat, mereka tak malu-malu mebinatangkan diri mereka dengan gaya-gaya seks sodomi, oral seks, senggama sejenis – homo dan lesbi, dan dilakukan secara terbuka dan telanjang bulat. Gaya seks mereka sama persisnya dengan gaya setubuh kambing, anjing, dan hewan-hewan lainnya. Padahal dalam Islam, bercinta dengan telanjang bulat dianggap sebagai perilaku tak sopan. Lebih-lebih bercinta dengan gaya-gaya yang keluar dari kodrat insaniah. Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang menggauli istrinya maka hendaklah ia berselimut dan janganlah ia bertelanjang sebagainya telanjangnya dua ekor unta.

Abu Dawud dari hadis Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: Adalah sangat tercela dan teramat nista orang yang menggauli wanitanya melalui anus. Imam Ahmad menandaskan dari hadis riwayat Ibnu Majah: Allah tidak akan sudi melihat seseorang yang menggauli istrinya dari anusnya. Imam Turmudzi dan Ahmad meriwaytkan: Barang siapa yang menggauli perempuan yang sedang haid, atau bersetubuh dengan perempuan melalui duburnya, serta mendatangi paranormal dan mempercayai petuahnya, ia sejatinya telah kafir terhadap risalah yang diturunkan kepada Muhammad SAW. Imam Baihaqi menegaskan: Barang siapa menggauli perempuan dari anusnya, berarti ia telah kafir. Dalam riwayat yang dituturkan Umar bin Khattab ditandaskan, bahwasanya Rasulullah Muhammad SAW bersabda: Allah tidak malu dengan kebenaran. Jangan kau gauli perempuan dari pantat mereka. Rasulullah lalu menegaskan perkataannya. Jangan gauli perempuan melalui anus mereka. Imam Turmudzi meriwayatkan dari hadis Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda: Janganlah kalian menggauli istri kalian dari pantat, Sesungguhnya Allah tidak malu menuturkan kebenaran.

Sa’id binYahya al-Umawiy meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kalian menggauli istri kalian dari pantatnya. Dalam riwayat Abu Darda ditandaskan: Barang siapa menggauli laki-laki (homo) atau perempuan dari pantat mereka, berarti ia telah kafir. Diriwayatkan dari Ismail bin Iyas dari Sahal bin Shalih dari Jabir, sabda Rasul SAW, Malulah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah tidak malu dari kebenaran. Janganlah kalian menggauli perempuan dari anus mereka. Imam al-Daruqutni juga meriwayatkan hadis yang sama, sabda Nabi SAW, Allah tidak malu dari kebenaran. Tidak dihalalkan menggauli perempuan dari anus mereka.

Imam Ahmad menandaskan, bahwa sebab turunnya ayat al-Quran, Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (QS al-Nisa’ / 4: 34) ialah adanya komunitas Anshar yang mendatangi Rasulullah SAW, mereka menanyakan kepada Nabi SAW perihal bersetubuh lewat anus. Rasulullah SAW berkata kepada mereka, Gauli istri-istri kalian sesuka kalian, dengan syarat zakar kalian tetap kalian masukkan melalui vagina. Dalam hadis Ibnu Abbas dituturkan, suatu hari Umar bin al-Khattab datang menghadap Rasulullah SAW, sembari berkata: Wahai Rasulullah, aku telah hancur binasa! Rasulullah SAW bertanya kepadanya: Wahai Umar, apa gerangan yang membuatmu binasa? Umar menjawab: Semalam aku telah berfantasi dengan permainan seksku. Aku gauli istriku dari anusnya, tetapi aku tidak menemukan kepuasan. Rasul SAW tidak menjawab keluhan Umar tersebut sepatah kata pun. Allah SAW lantas berwahyu kepada Nabi SAW: Istri-istri kamu adalah bagaikan tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam-mu itu bagaimana saja kamu kehendaki (QS al-Baqarah / 2: 223). Maksud dari sini adalah: Silahkan gauli istrimu dari belakang, namun jangan kau gauli dia ketika dalam keadaan haid, dan jangan kau gauli di melalui anusnya.

Abu Hurairah dan Ibnu Abbas berkata: Rasulullah Muhammad SAW berkhutbah kepada kami, dan itu merupakan khutbah terakhir beliau sebelum kembali kehadirat-Nya. Dalam khutbahnya beliau menasehati kami: Barang siapa mensetubuhi perempuan dari duburnya, ia akan sangat merugi pada hari kiamat, kelak baunya sangat amis, yang membuat jijik setiap manusia hingga ia dimasukkan ke nerakaNya. Allah akan mencabut pahala kebaikannya, Allah tidak akan menerima amal baiknya, Dia akan melemparkannya ke jurang api neraka yang paling dalam. Yang sedemikian itu, menurut Abu Hurairah; selama orang tersebut belum bertobat nasuha. Persetubuhan melalui anus, akan mengkelamkan wajah, menyesakkan dada, meredupkan cahaya hati, membuat jiwa tidak waras dan hati gelap, persetubuhan lewat anus akan melahirkan cacat permanen, menimbulkan kedongkolan dan kemarahan kedua belah pihak, persetubuhan melalui anus akan menghancurkan moral kedua belah pihak, tidak akan sehat (waras), kecuali dengan taubat nasuha.

Keenam, Memberi Kepuasan Pasangan. Dalam bercinta, masing-masing pasangan suami istri harus mampu memberi kepuasan kepada pasangannya. Anas bin Malik meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: Jika seseorang diantara kamu bersenggama dengan istrinya, hendaklah ia lakukan dengan penuh kesungguhan. Kemudian, kalau ia telah menyelesaikan kebutuhannya sebelum istrinya mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (kemaluannya), sampai istrinya menemukan kepuasan. (HR Abdul Razaq). Para pakar seksologi menuturkan, laki-laki memiliki kelemahan yang nyata dalam bercinta, yaitu titik orgasme yang pendek, umumnya berkisar antara dua sampai lima menit. Hal itu tentu saja jauh dibanding wanita, yang rata-rata titik orgasmenya antara sepuluh hingga dua puluh menit. Karenanya, secara alamiah laki-laki sukar memuaskan wanita.

Cara yang paling sering dan alamiah yang dapat dilakukan laki-laki untuk menutup kelemahan serta memuaskan istrinya adalah “berhenti sebelum puncak” (berhenti beberapa detik jangan sampai ketegangan hilang), dan cara paling elegan untuk itu adalah berganti posisi sebelum puncak.

Cacat lain yang terdapat pada kaum laki-laki saat bercinta ialah saat orgasme biasanya diikuti perasaan tak nyaman atau linu pada kemaluannya. Akibatnya, setelah puncak orgasme, biasanya laki-laki harus berhenti dulu (beberapa menit sampai beberapa jam), hal mana itu tidak terjadi pada wanita. Sungguh bijak bestari pitutur Rasulullah SAW: Janganlah ia buru-buru mencabut (kemaluannya), sampai istrinya menemukan kepuasan. Yang demikian itu ditekankan karena tujuan bercinta adalah untuk menggapai kepuasan ragawi bersama, bukan sepihak.

Ketujuh, Tidak Telanjang Bulat. Rasulullah SAW menyuruh setiap Muslim yang bercinta untuk menutup tubuh mereka dengan sehelai kain, dan tidak melakukan senggama dengan telanjang bulat. Sebab, setiap manusia selalu diiringi oleh malaikat, yang tidak pernah berpisah sekejappun. Maka tatkala orang seorang bersenggama dengan telanjang bulat, malaikat Allah akan malu melihatnya. Karenanya, Rasulullah SAW menyuruh umatnya untuk menutup tubuh saat bercinta. Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kalian bertelanjang, maka sesungguhnya bersama kalian adalah para malaikat yang tidak pernah berpisah dengan kalian, kecuali ketika kalian berada di kamar mandi, serta sewaktu para lelaki menggauli isteri mereka. Oleh sebab itu, malulah kalian kepada mereka (malaikat) dan hormatilah mereka. (HR Turmudzi). Rasulullah SAW menyuruh kita mengenakan sehelai kain saat bercinta, agar ibadah nikmat kita dicatat sebagai kebaikan dan beroleh ridha Allah Azza wa Jalla, serta membuahkan anak turun yang saleh dan salehah.

Kedelapan, di Tempat Tertutup. Diantara etika dan syarat senggama adalah harus dilakukan di tempat yang tertutup. Lebih dari itu, masing-masing pasangan tidak boleh telanjang bulat saat berhubungan badan. Harus ada sehelai kain yang menutup tubuh masing-masing. Sebab, sesungguhnya adalah sehelai kain yang ‘membungkus’ tubuh, menambah kenikmatan senggama, serta terjauhkan dari kesan vulgar, meski percintaan tersebut dilakukan di tempat tertutup. Rasulullah SAW bersabda: Jika salah seorang diantara kalian menggauli istrinya, maka hendaknya kedua pasangan tidak telanjang bulat.

Kesembilan, Diselai dengan Wudhu. Dalam hadis riwayat Muslim dari Abu Said al Khudri dituturkan, Rasulullah SAW bersabda: Jika kalian sedang bersenggama dengan istri kalian, lalu hendak mengulangi hubungan lagi hubungan badan, hendaknya kalian mengambil air wudhu terlebih dahulu. Nilai pembelajaran yang bisa dikais dari hadis Abu Said al Khudri, bahwa perintah mandi dan berwudhu paska bersenggama adalah demi membersihkan dan mensucikan jiwa, juga untuk menghilangkan sauh-sauh kotoran saat berhubungan. Bercinta dengan badan serta jiwa yang bersih, akan memicu gairah semangat kembali untuk melakukan senggama yang lebih hebat dari sebelumnya. Lain daripada itu, pergumulan dalam senggama juga melahirkan hawa panas dalam tubuh. Dengan mandi dan wudhu hawa panas bisa didinginkan kembali, lebih-lebih senggama dalam keadaan jiwa yang jernih serta badan yang bersih, akan menyehatkan seksualitas itu sendiri, sebab hubungan badan dalam keadaan kotor adalah rawan penyakit dan tidak sehat. Karenanya, Rasulullah SAW menganjurkan untuk menjaga kebersihan diri dalam melakukan hubungan badan, agar hubungan itu bisa dinikmati, serta dapat membuat orgasme yang maksimal.

Etika Sesudah Bercinta
Seperti halnya perintah bersih-bersih diri sebelum bercinta, Rasulullah SAW juga memerintahkan untuk mandi jinabah setelah bercinta. Dalam hadis yang diriwayatkan Jabir bin Abdillah dituturkan, Rasulullah SAW senantiasa membersihkan dirinya (dengan satu kali mandi) usai bercinta dengan para istrinya, terkadang pula beliau mandi setiap usai menggauli masing-masing istri. Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Rafi’, budak Rasul SAW, ia menandaskan , Rasulullah SAW pada satu malam menggilir para istrinya, beliau selalu mandi setiap usai bercinta dengan para istrinya. Aku bertanya kepada sang Rasulullah SAW: Wahai utusan Allah, kenapa Anda tidak mandi satu kali saja? Rasulullah SAW menjawab: Mandi

TATA CARA PERNIKAHAN DALAM ISLAM :
TATA CARA PERNIKAHAN DALAM ISLAM : MALAM PERTAMA DAN ADAB BERSENGGAMA Malam Pertama Dan Adab Bersenggama Saat pertama kali pengantin lelaki menemui isterinya setelah aqad nikah, dianjurkan melakukan beberapa hal, sebagai berikut: Pertama: Pengantin lelaki hendaknya meletakkan tangannya pada ubun-ubun isterinya seraya mendo’akan baginya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,mafhumnya: “Apabila salah seorang dari kamu menikahi wanita atau membeli seorang hamba maka peganglah ubun-ubunnya lalu bacalah ‘basmalah’ serta do’akanlah dengan do’a berkah seraya mengucapkan: ‘Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari keburukannya dan keburukan tabiat yang ia bawa.’” Kedua: Hendaknya ia mengerjakan solat sunat dua raka’at bersama isterinya. Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata: “Hal itu telah ada sandarannya dari ulama Salaf (Shahabat dan Tabi’in). 1. Hadits dari Abu Sa’id maula (hamba yang telah dimerdekakan) Abu Usaid. Ia berkata: “Aku menikah ketika aku masih seorang hamba. Ketika itu aku mengundang beberapa orang Shahabat Nabi, di antaranya ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Dzarr dan Hudzaifah radhiyallaahu ‘anhum. Lalu tibalah waktu solat, Abu Dzarr bergegas untuk mengimami solat. Tetapi mereka berkata: ‘Kamulah (Abu Sa’id) yang berhak!’ Ia (Abu Dzarr) berkata: ‘Apakah benar demikian?’ ‘Benar!’ jawab mereka. Aku pun ke depan mengimami mereka solat. Ketika itu aku masih seorang hamba. Selanjutnya mereka mengajariku, ‘Jika isterimu nanti datang menemuimu, hendaklah kalian berdua solat dua raka’at. Lalu mintalah kepada Allah kebaikan isterimu itu dan mintalah perlindungan kepada-Nya dari keburukannya. Selanjutnya terserah kamu berdua…!’” 2. Hadits dari Abu Waail. Ia berkata, “Seseorang datang kepada ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu, lalu ia berkata, ‘Aku menikah dengan seorang gadis, aku khawatir dia membenciku.’ ‘Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Sesungguhnya cinta berasal dari Allah, sedangkan kebencian berasal dari syaitan untuk membenci apa-apa yang dihalalkan Allah. Jika isterimu datang kepadamu, maka perintahkanlah untuk melaksanakan solat dua raka’at di belakangmu. Lalu ucapkanlah (berdo’alah): “Ya Allah, berikanlah keberkatan kepadaku dan isteriku, serta berkatilah mereka dengan sebab aku. Ya Allah, berikanlah rezeki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rezeki kepada mereka lantaran aku. Ya Allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan dan pisahkanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan.” Ketiga: Bercumbu rayu dengan penuh kelembutan dan kemesraan. Misalnya dengan memberinya segelas air minum atau yang lainnya. Hal ini berdasarkan hadits Asma’ binti Yazid binti as-Sakan radhiyallaahu ‘anha, ia berkata: “Saya menyolek ‘Aisyah untuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu saya datang dan saya panggil baginda supaya menghadiahkan sesuatu kepada ‘Aisyah. Baginda pun datang lalu duduk di samping ‘Aisyah. Ketika itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersamanya segelas susu. Setelah beliau minum, gelas itu beliau mempelawa kepada ‘Aisyah. Tetapi ‘Aisyah menundukkan kepalanya dan malu-malu.” ‘Asma binti Yazid berkata: “Aku menegur ‘Aisyah dan berkata kepadanya, ‘Ambillah gelas itu dari tangan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam!’ Akhirnya ‘Aisyah pun meraih gelas itu dan meminum isinya sedikit.” Keempat: Berdo’a sebelum jima’ (bersenggama), yaitu ketika seorang suami hendak menggauli isterinya, hendaklah ia membaca do’a: “Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau kurniakan kepada kami.” Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maka, apabila Allah menetapkan lahirnya seorang anak dari hubungan antara keduanya, niscaya syaitan tidak akan membahayakannya selama-lamanya.” Kelima: Suami boleh menggauli isterinya dengan cara bagaimana pun yang disukainya asalkan pada kemaluannya. Allah Ta’ala berfirman,mafhumnya: “Artinya : Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu bila saja dengan cara yang kamu sukai. Dan utamakanlah (yang baik) untuk dirimu. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu (kelak) akan menemui-Nya. Dan sampaikanlah khabar gembira kepada orang yang beriman.” Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Pernah suatu ketika ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, lalu ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, celaka saya.’ Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu celaka?’ ‘Umar menjawab, ‘Saya membalikkan pelana saya tadi malam.’ Dan beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak memberikan komentar apa pun, hingga turunlah ayat kepada beliau: “Isteri-Isterimu adalah ladang bagimu, maka datangilah ladangmu itu kapan saja dengan cara yang kamu sukai…” Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,mafhumnya: “Setubuhilah isterimu dari arah depan atau dari arah belakang, tetapi hindarilah (jangan engkau menyetubuhinya) di dubur dan ketika sedang haidh”. Juga berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,mafhumnya: “Silakan menggaulinya dari arah depan atau dari belakang asalkan pada kemaluannya”. Seorang Suami Dianjurkan Mencampuri Isterinya Bila Waktu Saja • Apabila suami telah melepaskan hajat syahwatnya, janganlah ia tergesa-gesa bangkit hingga isterinya melepaskan hajatnya juga. Sebab dengan cara seperti itu terbukti dapat melangsungkan keharmonian dan kasih sayang antara kedua-duanya. Apabila suami mampu dan ingin mengulangi jima’ sekali lagi, maka hendaknya ia berwudhu’ terlebih dahulu. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,mafhumnya: “Jika seseorang diantara kalian menggauli isterinya kemudian ingin mengulanginya lagi, maka hendaklah ia berwudhu’ terlebih dahulu.” • Yang afdhal (lebih utama) adalah mandi terlebih dahulu. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Rafi’ radhi-yallaahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menggilir isteri-isterinya dalam satu malam. Beliau mandi di rumah fulanah dan rumah fulanah. Abu Rafi’ berkata, “Wahai Rasulullah, mengapa tidak dengan sekali mandi saja?” Beliau menjawab. “Ini lebih bersih, lebih baik dan lebih suci.” • Seorang suami dibolehkan jima’ (mencampuri) isterinya bila waktu saja yang dia kehendaki; pagi, siang, atau malam. Bahkan, apabila seorang suami melihat wanita yang mengagumkannya, hendaknya ia mendatangi isterinya. Hal ini berdasarkan riwayat bahawasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melihat wanita yang mengagumkan beliau. Kemudian beliau mendatangi isterinya -yaitu Zainab radhiyallaahu ‘anha- yang sedang membuat adunan roti. Lalu beliau melakukan hajatnya (berjima’ dengan isterinya). Kemudian beliau bersabda,mafhumnya “Sesungguhnya wanita itu menghadap dalam rupa syaitan dan membelakangi dalam rupa syaitan. Maka, apabila seseorang dari kalian melihat seorang wanita (yang mengagumkan), hendaklah ia mendatangi isterinya. Kerana yang demikian itu dapat menolak apa yang ada di dalam hatinya.” Imam an-Nawawi rahimahullaah berkata : “ Dianjurkan bagi siapa yang melihat wanita hingga syahwatnya tergerak agar segera mendatangi isterinya – atau hamba perempuan yang dimilikinya -kemudian menggaulinya untuk meredakan syahwatnya juga agar jiwanya menjadi tenang.” Akan tetapi, ketahuilah saudara yang budiman, bahawasanya menahan pandangan itu wajib hukumnya, karena hadits tersebut berkenaan dan berlaku untuk pandangan secara tiba-tiba. Allah Ta’ala berfirman,mafhumnya: ““Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” . Dari Abu Buraidah, dari ayahnya radhiyallaahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ali,mafhumnya : “Wahai ‘Ali, janganlah engkau mengikuti satu pandangan pandangan lainnya kerana yang pertama untukmu dan yang kedua bukan untukmu”. • Haram menyetubuhi isteri pada duburnya dan haram menyetubuhi isteri ketika ia sedang haidh/ nifas. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Artinya : Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang haidh. Katakanlah, ‘Itu adalah sesuatu yang kotor.’ Karena itu jauhilah isteri pada waktu haidh; dan janganlah kamu dekati sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, campurilah mereka sesuai dengan (ketentuan) yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang yang bertaubat dan mensucikan diri.” Juga sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam,mafhumnya: “Barangsiapa yang menggauli isterinya yang sedang haidh, atau menggaulinya pada duburnya, atau mendatangi dukun, maka ia telah kafir terhadap ajaran yang telah diturunkan kepada Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.” Juga sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Dilaknat orang yang menyetubuhi isterinya pada duburnya.” • Kaffarat bagi suami yang menggauli isterinya yang sedang haidh. Syaikh al-Albani rahimahullaah berkata, “Barangsiapa yang dikalahkan oleh hawa nafsunya lalu menyetubuhi isterinya yang sedang haidh sebelum suci dari haidhnya, maka ia harus bersedekah dengan setengah pound emas Inggeris, kurang lebihnya atau seperempatnya. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang orang yang menggauli isterinya yang sedang haidh. Lalu Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda. “Hendaklah ia bersedekah dengan satu dinar atau setengah dinar.’” • Apabila seorang suami ingin bercumbu dengan isterinya yang sedang haidh, ia boleh bercumbu dengannya selain pada kemaluannya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. “Lakukanlah apa saja kecuali nikah (jima’/ bersetubuh).” • Apabila suami atau isteri ingin makan atau tidur setelah jima’ (bercampur), hendaklah ia mencuci kemaluannya dan berwudhu’ terlebih dahulu, serta mencuci kedua tangannya. Hal ini berdasarkan hadits dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,mafhumnya: “Apabila beliau hendak tidur dalam keadaan junub, maka beliau berwudhu’ seperti wudhu’ untuk solat. Dan apabila beliau hendak makan atau minum dalam keadaan junub, maka beliau mencuci kedua tangannya kemudian beliau makan dan minum.” Dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha, dia berkata, “Apabila Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam hendak tidur dalam keadaan junub, beliau mencuci kemaluannya dan berwudhu’ (seperti wudhu’) untuk solat.” • Sebaiknya tidak bersenggama dalam keadaan sangat lapar atau dalam keadaan sangat kenyang, karena dapat membahayakan kesihatan. • Suami isteri dibolehkan mandi bersama dalam satu tempat, dan suami isteri dibolehkan saling melihat aurat masing-masing. Adapun riwayat dari ‘Aisyah yang mengatakan bahwa ‘Aisyah tidak pernah melihat aurat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam adalah riwayat yang bathil, kerana di dalam sanadnya ada seorang pendusta. • Haram hukumnya menyebarkan rahsia rumahtangga dan hubungan suami isteri. Setiap suami mahupun isteri dilarang menyebarkan rahsia rumah tangga dan rahsia ranjang mereka. Hal ini dilarang oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, orang yang menyebarkan rahsia hubungan suami-isteri adalah orang yang paling hina kedudukannya di sisi Allah. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya manusia yang paling hina kedudukannya pada hari kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya kemudian ia menyebarkan rahsia isterinya.” Dalam hadits lain yang shahih, disebutkan bahawa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian lakukan (menceritakan hubungan suami isteri). Perumpamaannya seperti syaitan laki-laki yang berjumpa dengan syaitan perempuan di jalan lalu ia menyetubuhinya (di tengah jalan) dilihat oleh orang banyak…” Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullaah berkata, “Apa yang dilakukan sebahagian wanita berupa menceritakan masalah rumahtangga dan kehidupan suami isteri kepada kaum kerabat atau kawan adalah perkara yang diharamkan. Tidak halal seorang isteri menyebarkan rahsia rumahtangga atau keadaannya bersama suaminya kepada seseorang. Allah Ta’ala berfirman: “Artinya : “Maka perempuan-perempuan yang soleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengkhabarkan bahawa manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari Kiamat adalah laki-laki yang bersenggama dengan isterinya dan wanita yang bersenggama dengan suaminya, kemudian ia menyebarkan rahsia pasangannya”. __________ Foote Note . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2160), Ibnu Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185) dan ia menshahihkannya, juga al-Baihaqi (VII/148), dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 92-93) . Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (X/159, no. 30230 dan ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191-192). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 94-97), cet. Darus Salam, th. 1423 H. . Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam al-Mushannaf (VI/191, no. 10460, 10461). . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/438, 452, 453, 458). Lihat Adabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 91-92), cet. Darus Salam, th. 1423 H. . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 141, 3271, 3283, 5165), Muslim (no. 1434), Abu Dawud (no. 2161), at-Tirmidzi (no. 1092), ad-Darimi (II/145), Ibnu Majah (no. 1919), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 144, 145), Ahmad (I/216, 217, 220, 243, 283, 286) dan lainnya, dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma. . Pelana adalah kata kiasan untuk isteri. Yang dimaksud ‘Umar bin al-Khaththab adalah menyetubuhi isteri pada kemaluannya tetapi dari arah belakang. Hal ini karena menurut kebiasaan, suami yang menyetubuhi isterinya berada di atas, yaitu menunggangi isterinya dari arah depan. Jadi, karena ‘Umar menunggangi isterinya dari arah belakang, maka dia menggunakan kiasan “membalik pelana”. (Lihat an-Nihayah fii Ghariibil Hadiits (II/209)) . Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ahmad (I/297), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 91) dan dalam Tafsiir an-Nasa-i (I/256, no. 60), at-Tirmidzi (no. 2980), Ibnu Hibban (no. 1721-al-Mawarid) dan (no. 4190-Ta’liiqatul Hisaan ‘ala Shahiih Ibni Hibban), ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabir (no. 12317) dan al-Baihaqi (VII/198). At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” Hadits ini dishahihkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fat-hul Baari (VIII/291). . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam Syarah Ma’anil Aatsaar (III/41) dan al-Baihaqi (VII/195). Asalnya hadits ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari (no. 4528), Muslim (no. 1435) dan lainnya, dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat al-Insyirah fii Adabin Nikah (hal. 48) oleh Abu Ishaq al-Huwaini. . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (308 (27)) dan Ahmad (III/28), dari Shahabat Abu Sa’id al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu. . Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 219), an-Nasa-i dalam Isyratun Nisaa’ (no. 149), dan yang lainnya. Lihat Shahih Sunan Abi Dawud (no. 216) dan Adabuz Zifaf (hal. 107-108). . Maksudnya isyarat dalam mengajak kepada hawa nafsu. . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1403), at-Tirmidzi (no. 1158), Adu Dawud (no. 2151), al-Baihaqi (VII/90), Ahmad (III/330, 341, 348, 395) dan lafazh ini miliknya, dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (I/470-471). . Syarah Shahiih Muslim (IX/178). . Hadits hasan: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (no. 2777) dan Abu Dawud (no. 2149). . Jangan bercampur dengan isteri pada waktu haidh. . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 3904), at-Tirmidzi (no. 135), Ibnu Majah (no. 639), ad-Darimi (I/259), Ahmad (II/408, 476), al-Baihaqi (VII/198), an-Nasa-i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 130, 131), dari Sahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. . Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Ibnu Adi dari ‘Uqbah bin ‘Amr dan dikuatkan dengan hadits Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2162) dan Ahmad (II/444 dan 479). Lihat Adaabuz Zifaf fis Sunnah al-Muthahharah (hal. 105). . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 264), an-Nasa-i (I/153), at-Tirmidzi (no. 136), Ibnu Majah (no. 640), Ahmad (I/172), dishahihkan oleh al-Hakim (I/172) dan disetujui oleh Imam adz-Dzahabi. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 122) . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 302), Abu Dawud (no. 257), dari Shahabat Anas bin Malik radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Adabuz Zifaf (hal. 123). . Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 222, 223), an-Nasa-i (I/139), Ibnu Majah (no. 584, 593) dan Ahmad (VI/102-103, dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 390) dan Shahiihul Jaami’ (no. 4659). . Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 288), Muslim (no. 306 (25)), Abu Dawud (no. 221), an-Nasa-i (I/140). Lihat Shahiihul Jaami’ (no. 4660). . Lihat Adabuz Zifaf hal. 109. . Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah (no. 17732), Muslim (no. 1437), Abu Dawud (no. 4870), Ahmad (III/69) dan lainnya. Hadits ini ada kelemahannya karena dalam sanadnya ada seorang rawi yang lemah bernama ‘Umar bin Hamzah al-‘Amry. Rawi ini dilemahkan oleh Yahya bin Ma’in dan an-Nasa-i. Imam Ahmad berkata tentangnya, “Hadits-haditsnya munkar.” Lihat kitab Mizanul I’tidal (III/192), juga Adabuz Zifaf (hal. 142). Makna hadits ini semakna dengan hadits-hadits lain yang shahih yang melarang menceritakan rahasia hubungan suami isteri. . Diriwayatkan oleh Ahmad (VI/456-457). . Fataawaa al-Islaamiyyah (III/211-212).

Join today to get your own Multiply site

manutd01’s Site
HomeBlogPhotosMusicCalendarLinks

Kamasutra Dalam Islam
May 14, ’07 3:14 AM
for everyone
Kamasutra Dalam Islam
[30. Ar Ruum: 21]
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Segala puja dan puji hanyalah bagi ALLAH yang Maha Suci dan Maha Agung. Tidak ada tuhan selain ALLAH. Tidak ada sekutu bagi ALLAH sang penguasa langit dan bumi. Salam dan selawat senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan istri-istri serta keturunan beliau.
Amma ba’du. Artikel ini bagi sebagian besar manusia mungkin dianggap taboo atau tidak berguna sama sekali. Hal itu wajar saja karena pembahasan semacam ini sangat jarang disampaikan oleh Kyai maupun Ustadz. Namun haruslah kita sadari kembali bahwa syariat Islam itu sumbernya adalah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah diberi petunjuk oleh ALLAH subhanahu wa ta’ala. Jadi, selama kita mengikuti apa yang disampaikan oleh Rasulullah dan para isteri serta sahabat beliau, berarti kita telah mengikuti sunnah Rasul. Jika perbuatan mereka benar, tentu kita juga benar.
Dan kita pada kesempatan ini mencoba menerangkan kembali apa-apa yang dibenarkan oleh ALLAH dan Rasul-NYA dalam hubungan suami isteri, khususnya tata krama senggama atau berhubungan badan atau berhubungan sex atau pada zaman modern ini orang menyebutnya “KAMASUTRA”.
Kamasutra yang kita sampaikan ini mungkin akan sangat bertolak belakang dan sangat bertentangan dengan apa-apa yang banyak ditulis dalam buku-buku seperti Mujarrobat, Primbon dan lainnya. Buku-buku itu yang kemudian diyakini oleh masyarakat sebagai kebenaran. Sungguh mereka telah menetapkan perkara agama tanpa ilmu hadis, melainkan secara akal naluri saja.
ALASAN MENIKAH
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Wanita itu dinikahi karena empat perkara; [1] karena harta bendanya, [2] karena keturunannya, [3] karena kecantikannya dan [4] karena agamanya. Maka pilihlah wanita yang beragama, maka kamu akan beruntung.”
[Bukhari, Muslim, Nasa’I , Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darami]
WANITA ADALAH MAKHLUK LEMBUT
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya wanita itu seperti tulang rusuk. Jika kamu berusaha meluruskannya, maka kamu akan mematahkannya. Tetapi kalau kamu biarkan saja, maka kamu akan menikmatinya dengan tetap dalam keadaan bengkok.”
[Bukhari, Muslim, Tirmizi, Ahmad dan Ad-Darami]

Sebagaimana kita ketahui dari 2 hadis di atas, bahwa wanita itu dinikahi oleh 4 sebab. Dan sebaik-baik alasan nikah adalah karena agamanya. Hal itu dimaksudkan bahwa wanita yang mengerti tentang agama tentu saja ia akan senantiasa menyenangkan hati suaminya. Ia tahu tentang kewajibannya bersolek hanya untuk suami, ia juga tahu ia harus menuruti “fantasy” suami khususnya dalam hubungan sex ini, dan ia pun tahu bahwa ia juga punya hak yang sama untuk diperlakukan dengan penuh kasih sayang.
Dan kedua, kita tahu bahwa wanita makhluk yang lembut dan tidak dapat diperlakukan dengan kasar, termasuk masalah sex ini. Sehingga janganlah para suami hanya karena mengikuti fantasy sex-nya kemudian ia bersikap agak kasar atau memaksa kepada istrinya agar menuruti keinginan suami. Melainkan hendaknya para suami menjelaskan kepada istrinya bahwa Islam menghalalkan “fantasy sex” itu.
ALLAH mengetahui apa-apa hasrat yang ada dalam hati setiap hamba-NYA. Dan fantasy sex adalah karunia yang diberikan-NYA kepada suami isteri yang sudah diikat dengan halal. ALLAH subhanahu wa ta’ala menciptakan hasrat kepada suami-isteri untuk saling menyukai, untuk mencintai dan dicintai, menyayangi dan disayangi. Itulah kodrat Ilahi yang tidak boleh kita lupakan. Adalah ALLAH dalam agama-NYA Islam, DIA sudah menetapkan tata cara pergaulan antara suami dengan isteri yang kemudian diajarkan-NYA kepada Rasul-NYA untuk disampaikan kepada umat-NYA.
Dan milis kita mencoba menyebutkan beberapa KAMASUTRA itu serta menyampaikannya kepada orang-orang yang mau menerima kebenaran sunnah Rasul. Kita tidak mengikuti perilaku orang-orang kafir, karena apa yang dihalalkan oleh ALLAH subhanahu wa ta’ala, maka halal pula bagi kita. Jadi hendaknya kita syukuri itu sebagai karunia ALLAH.
KAMASUTRA DALAM ISLAM
• Isteri tidak boleh menolak ajakan suaminya untuk bersenggama, demikian pula sebaliknya
• Senggama boleh dilakukan pada siang hari, namun tidak boleh pada siang hari bulan puasa (Ramadhan) karena akan kena kafarat (denda/tebusan).
• Suami-istri membaca doa sebelum bersenggama
• Kebebasan dalam bersenggama:
o bersenggama boleh dari depan maupun dari belakang seperti hewan sedang kawin, asalkan jangan memasukkan penis ke dalam anus.
o bersenggama boleh melihat aurat (kemaluan) suami atau istri
o boleh telanjang bulat
o boleh memakai “gaya” apapun selama senggama
• Suami boleh mengeluarkan air mani (sperma) di luar vagina istrinya (dengan maksud ingin menghindari kehamilan)
• Jika ingin mengulangi senggama, maka harus berwudhu kembali
• Jika ingin tidur sesudah bersenggama, maka harus berwudhu terlebih dahulu
• Boleh mandi junub bersama suami-isteri
• Jangan menceritakan tentang apa-apa yang dilakukan suami-isteri ketika senggama kepada orang lain termasuk kepada mertua.
LARANGAN DALAM SENGGAMA
• Haram bersenggama dengan isteri yang sedang haid (menstruasi)
• Haram bersenggama dengan isteri yang baru selesai melahirkan (nifas)
• Haram bersenggama pada anus (dubur)

ISTRI TIDAK BOLEH
MENOLAK AJAKAN SUAMI
1. ISTRI TIDAK BOLEH MENOLAK AJAKAN SUAMI
Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang istri bermalam meninggalkan atau menjauhi tempat tidur suaminya, maka malaikat akan mengutuknya sampai pagi.”
[Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ahmad dan Ad-Darami]
Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Demi ALLAH yang jiwaku di tangan-NYA, apabila seorang laki-laki memanggil isterinya tidur ke ranjang, tetapi si isteri enggan (menolak), maka penduduk langit [malaikat] marah kepadanya hingga suaminya memaafkannya.”
[Muslim]
———
Itulah beberapa hadis yang menyebut tentang larangan bagi isteri menolak ajakan suaminya. Dan tentunya kita harus ketahui pula bahwa seorang suami pun harus pula memahami keinginan isterinya. Karena hasrat birahi yang ada pada wanita cenderung lebih besar, namun mereka sanggup memendamnya. Sehingga sungguh bijaksana jika suami juga belajar memahaminya.

2. BOLEH SENGGAMA DI SIANG HARI
Dari Abu Hurairah, ia berkata:
Seorang lelaki datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Celaka saya, wahai Rasulullah.”
Beliau bertanya: “Apa yang membuat engkau celaka?”
Lelaki itu menjawab: “Saya telah bersetubuh dengan istri saya pada siang hari Ramadhan.”
Beliau bertanya: “Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memerdekakan seorang budak?” Ia menjawab: Tidak punya.
Beliau bertanya: “Apakah engkau mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut? Ia menjawab: Tidak mampu.
Beliau bertanya kembali: “Apakah engkau mempunyai sesuatu untuk memberi makan 60 (enam puluh) orang miskin?”
Ia menjawab: “Tidak punya.” Kemudian ia duduk menunggu sebentar. Lalu Rasulullah SAW memberikan sekeranjang kurma kepadanya sambil bersabda: “Sedekahkanlah ini.”
Lelaki tadi bertanya: “Berarti aku harus menyedekahkannya (kurma) kepada orang yang paling miskin di antara kita, sedangkan di daerah ini tidak ada keluarga yang paling memerlukannya selain dari kami.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa hingga kelihatan salah satu bagian giginya. Kemudian beliau bersabda: “Pulanglah dan berikan makan keluargamu.”
[Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Ad-Darami]
Inilah salah satu hadis yang menyebut tentang adanya umat Rasulullah yang bersenggama pada siang hari. Dan para ulama berpendapat bahwa hadis ini berisi tentang dibolehkannya suami-isteri bersenggama pada siang hari. Seandainya perbuatan itu dilarang, tentu saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memberikan sanksi (hukuman) atau mengeluarkan larangan.
Adapun sebab orang itu kena denda adalah karena ia bersenggama pada siang hari puasa Ramadhan. Maka ia dan isterinya tidak hanya batal puasa dan wajib meng-qadha (membayar) puasanya, melainkan mereka harus membayar denda lainnya sebagaimana yang disebut dalam hadis itu.

BERDOA SEBELUM BERMAIN
3. DOA SEBELUM SENGGAMA
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang mereka akan menggauli isterinya, hendaklah ia membaca:

“Bismillah. Ya ALLAH, jauhkanlah kami dari setan, dan jauhkanlah setan dari apa yang ENGKAU karuniakan kepada kami.”

Karena apabila ditakdirkan hubungan antara mereka berdua tersebut membuahkan anak, maka setan tidak akan membahayakan anak itu selamanya.
[Bukhari, Muslim, Tirmizi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Ad-Darami]

4. BOLEH SENGGAMA DARI ARAH BELAKANG
Dari Jabir, ia berkata: Orang-orang Yahudi biasa mengatakan bahwa apabila seorang laki-laki menggauli istrinya pada qubulnya (vagina) dari belakang, maka anak yang terlahir akan juling matanya. Lalu turunlah ayat:
[2. Al Baqarah: 223]. Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.
[Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ad-Darami]
———
Hadis ini adalah dalil yang memperbolehkan suami untuk menyetubuhi isterinya dari arah belakang sebagaimana hewan kawin, tetapi yang halal adalah mendatanginya dari tempat yang sudah ditetapkan yaitu vagina (faraj). Adapun jika memasukkan penisnya (zakar) ke dalam anus (dubur), maka hukumnya haram.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu mendatangi perempuan lewat pantatnya” atau Nabi bersabda pula: Pada duburnya.
[Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad]
———
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Terlaknatlah laki-laki yang mendatangi perempuan lewat duburnya (anus).”
[Tirmizi, Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad]
———
Tentu saja secara logika dan akal kita mengetahui bahwa anus adalah lubang yang kotor karena merupakan saluran percernaan dimana tahi keluar darinya. Demikian pula agama Islam yang penuh dengan kesucian dan menyukai kebersihan, tentu saja agama kita melarang dengan keras menyetubuhi isteri pada anusnya (dubur).

5. BEBAS BER-FANTASY
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan, didalam persetubuhan salah seorang diantara kalian ada pahala”. Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah salah seorang diantara kami memuaskan birahinya dan dia mendapat pahala karena itu?” Beliau bersabda: “Bagaimana pendapat kalian jika dia meletakkannya kepada hal yang haram, apakah dia mendapat dosa?” Mereka menjawab, “Benar”, beliau bersabda, “demikian pula jika dia meletakannya pada hal yang halal, maka dia mendapat pahala”.
[Muslim]
———

Hadis di atas menjadi salah satu dalil yang memberikan kebebasan penuh kepada suami-isteri untuk berfantasy terhadap apapun keinginan mereka berdua ketika bersenggama. Selama perbuatan mereka berdua tidak ada yang mengetahui atau mengintip, maka suami-istri diberi kebebasan apa saja sebagaimana Al-Baqarah: 223 itu. Termasuk disini jika mereka ingin telanjang bulat atau saling melihat kemaluan mereka.

6. MATI DALAM SENGGAMA ADALAH SYAHID
Bahkan karena keutamaan bersenggama ini, hingga perbuatan itu termasuk dalam golongan syuhada apabila ia mendapati dirinya mati dalam keadaan junub setelah mengumpuli istrinya. Begitu pula sebaliknya.

Dari Jabir bin Atik dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam beliau bersabda:
“Syuhada itu ada tujuh selain orang yang gugur berperang fi sabilillah ( di jalan Allah) yaitu: [1] Orang yang mati ditusuk adalah syahid, [2] mati tenggelam adalah syahid, [3] mati berkumpul dengan istri adalah syahid, [4] mati sakit perut adalah syahid, [5] mati terbakar adalah syahid, [6] mati tertimpa reruntuhan adalah syahid dan [7] wanita yang mati melahirkan anak adalah syahid”.
[Ahmad, Abu Dawud, Nasa’i, dan Hakim dalam kitab Mustadraknya dengan komentar hadits ini sanadnya shahih. Pendapat ini di setujui oleh Adh-Dhahabi]
7. MENGELUARKAN MANI DI LUAR VAGINA
Dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Kami berperang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melawan Bani Musthaliq lalu kami berhasil menawan beberapa wanita Arab yang cantik. Kami sudah lama tidak berhubungan dengan isteri, maka kami ingin sekali menebus mereka sehingga kami dapat menikahi mereka secara mut’ah dan melakukan ‘azal [mengeluarkan sperma di luar vagina untuk menghindari kehamilan]. Kami berkata: Kami melakukan demikian sedangkan Rasulullah berada di tengah-tengah kami tanpa kami tanyakan tentang hal tersebut. Lalu kami tanyakan juga kepada beliau dan beliau bersabda: “Tidak apa-apa walaupun tidak kamu lakukan (‘azal itu) karena tidak ada satu jiwa pun yang telah ALLAH tentukan untuk tercipta sampai hari kiamat kecuali pasti akan terjadi.”
[Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasa’I, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Ad-Darami]
———
Ini adalah hadis yang di mansukh (dihapus / di-delete), karena nikah mut’ah hanya diizinkan selama 3 hari karena waktu itu belum datang wahyu. Namun setelah 3 hari itu nikah mut’ah ini diharamkan selama-lamanya oleh ALLAH.
Dari Jabir, ia berkata: “Kami tetap melakukan ‘azal disaat Al-Qur’an masih turun”. Ishaq menambahkan; Sufyan berkata: “Kalau ada sesuatu yang terlarang pasti Al-Qur’an telah melarang hal tersebut”.
[Bukhari, Muslim, Tirmizi, Ibnu Majah dan Ahmad]
Dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Masalah ‘azal pernah dibicarakan orang di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau bertanya: “Apakah itu ‘azal?” Jawab para sahabat: “[‘azal adalah] Seorang laki-laki menyetubuhi isterinya yang sedang menyusui anaknya, tetapi dia tidak ingin isterinya itu hamil. Atau seorang laki-laki yang menyetubuhi hamba sahayanya, tetapi dia tidak ingin sahaya itu hamil karenanya.”
Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak ada gunanya kalian berbuat seperti itu. Karena kehamilan itu termasuk qadar.”
Kata Ibnu ‘Aun, “setelah itu kukabarkan kepada Hasan, maka kata Hasan: Demi ALLAH, sesungguhnya yang demikian itu adalah teguran dari ALLAH.
[Muslim]
———

Dari Jabir, ia berkata: “Kami pernah melakukan ‘azal pada masa Rasulullah dan berita perbuatan kami itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tetapi beliau tidak melarang kami melakukannya.”
[Muslim]
Dari Abu Said Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya orang tentang ‘azal, jawab beliau: “Tidak semua air mani (sperma) langsung menjadi anak. Tetapi apabila ALLAH menghendaki menjadikan sesuatu, tidak satupun yang dapat menghalanginya.”
[Muslim]
———
Dari Saad bin Abi Waqqash, katanya: Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia bertanya: “Saya melakukan ‘azal terhadap isteriku (yang sedang pada masa menyusui bayi). Bagaimana itu hukumnya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Apa yang menyebabkan kamu melakukannya?” Jawab laki-laki itu: “Saya kasihan terhadap anak-anaknya (takut kalau ia menjadi cacat)”. Rasulullah bersabda: “Seandainya hal itu menyebabkan anak-anak cacat, sudah pasti akan cacatlah orang-orang Persia dan Romawi.” [Muslim]
———
Dan masih banyak hadis lainnya tentang ‘azal baik dari Bukhari maupun Muslim, belum lagi dari kitab Sunan dan Musnad. Sehingga para ulama pun sependapat bahwa mengeluarkan mani di luar vagina adalah boleh.
Semua hadis tentang ‘azal ini kemudian dijadikan hujjah (sumber hukum) oleh sebagian ulama dalam menentukan hukum tentang onani dan masturbasi.
Dan pendapat dalam Mazhab Syafi’i terbagi dua:
1. Menurut Imam Syafi’i: hukumnya haram karena mendzalimi diri sendiri dan termasuk zina tangan.
2. Menurut sebagian “ulama salaf pendukung Syafi’i” (Syafi’i Salaf): hukumnya makruh (perbuatan tercela tetapi tidak berdosa), karena ‘azal dalam kisah para sahabat ini tentu saja sama dengan onani, karena mustahil mani keluar dengan sendirinya kecuali dengan bantuan tangan. Dan ‘azal maupun onani adalah sama-sama mengeluarkan mani, baik itu di luar vagina sesudah bersetubuh maupun tidak karena persetubuhan. Dan ada riwayat yang menceritakan tentang ‘azal yang dilakukan seseorang karena isterinya sedang haid.
8. HUKUM ONANI DAN MASTURBASI

Perkara ‘azal juga merupakan salah satu dalil yang dipakai oleh para ulama untuk mendukung program Pemerintah Indonesia yaitu KB (Keluarga Berencana) meskipun secara teknis berbeda. ‘Azal dimaksudkan untuk menghindari kehamilan, begitupula dengan kontrasepsi KB.
Penggunaan pil dan alat kontrasepsi bertujuan untuk membunuh sperma, namun para ulama sepakat bahwa asalkan benih itu belum berumur 120 hari, maka tidak berdosa karena masih berupa darah.
Sedangkan jika lebih dari 120 hari, maka dianggap membunuh janin bayi dan berdosa besar.

9. HARUS BERWUDHU JIKA INGIN MAIN LAGI
Dari Abu Sa’id Al Khudri, katanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Apabila kamu bersenggama kemudian ingin mengulangi senggamanya kembali, maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu.
[Muslim]
———
Hadis ini tidak menulis dengan jelas siapa yang disuruh berwudhu. Tetapi para ulama berpendapat bahwa yang mengulang wudhu adalah mereka berdua, yaitu suami dan isteri yang ingin mengulangi senggama mereka. Hal ini disesuaikan dengan hadis-hadis lain yang menyebut bahwa perkara senggama adalah perbuatan berdua, maka kewajiban yang timbul akibat perbuatan itu juga harus menjadi tanggungan suami-isteri itu.
Demikian juga apabila suami-isteri ini ingin tidur sesudah mereka bersenggama, maka mereka berdua juga diwajibkan berwudhu terlebih dahulu sebelum tidur atau mereka boleh langsung mandi jinabat. [karena pada dasarnya mandi jinabat harus berwudhu juga].

WUDHU SEBELUM TIDUR
Dari Aisyah, katanya: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hendak tidur, padahal beliau sedang junub, maka beliau wudhu terlebih dahulu seperti wudhu shalat, sesudah itu barulah beliau tidur.
[Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad & Ad Darami]
BERWUDHU JIKA INGIN TIDUR
Dari Ibnu Umar, katanya: (ayahnya) Umar bin Khattab bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Ya, Rasulullah, bolehkah kami tidur dalam keadaan junub? Jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Boleh saja, tetapi harus berwudhu terlebih dahulu.”
[Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik & Ad Darami]
Dari Aisyah, katanya: Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang dalam keadaan junub, padahal beliau ingin makan atau tidur, maka beliau wudhu terlebih dahulu seperti wudhu shalat.
[Muslim]
—————————–
Dari Abdullah bin Abu Qais katanya: Aku bertanya kepada Aisyah tentang shalat Witir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu dia (Aisyah) menjawab dengan menyebutkan hadis mengenai Witir. Kemudian aku bertanya pula: Apakah yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam keadaan jinabah (junub), apakah beliau mandi sebelum tidur? Ataukah beliau tidur terlebih dahulu kemudian mandi? Jawab Aisyah: Kedua-duanya pernah dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kadang-kadang beliau mandi terlebih dahulu, sesudah itu beliau tidur. Kadang-kadang beliau berwudhu terlebih dahulu baru kemudian beliau tidur. Kataku (Abdullah): Segala puji bagi ALLAH yang telah menjadikan segala urusan menjadi lapang.
[Muslim]
10. MANDI BERSAMA
Dari Ummu Salamah, ia berkata: Ketika aku sedang berbaring bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam satu selimut, tiba-tiba aku haid, maka aku keluar dengan pelan-pelan lalu mengambil pakaian khusus waktu haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku: Apakah kamu haid? Aku jawab: Ya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilku dan aku kembali berbaring bersama beliau dalam satu selimut. Zainab binti Ummu Salamah berkata: Dia (Ummu Salamah) dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi jinabat bersama dalam satu bejana.
[Bukhari, Muslim, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal dan Ad Darami]
SUAMI-ISTERI BOLEH MANDI BERSAMA
Dari Ubaid bin Umair, ia berkata: Aisyah menyampaikan bahwa Abdullah bin Amru memerintahkan para wanita untuk mengurai rambutnya apabila mereka mandi. Aisyah berkata: Betapa anehnya Ibnu Amru ini, dia menyuruh kaum wanita untuk menguraikan rambutnya saat mandi, mengapa tidak menyuruh agar mencukur rambutnya saja? Sesungguhnya aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu wadah dan aku tidak menyiram kepalaku lebih dari tiga siraman.
[Bukhari, Muslim, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad bin Hanbal dan Ad Darami]
Dari Aisyah, ia berkata: Aku mandi berduaan dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bejana, sehingga tangan kami saling bergantian masuk ke dalam bejana itu. Padahal ketika itu kami sama-sama mandi junub.
[Muslim]
Dari Aisyah, ia berkata: Saya mandi dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam (juga ikut mandi) dari air satu bejana yang disebut bejana Al Faraq (volume 15 liter).
[Bukhari]
Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Maimunah (istri Nabi SAW) mengabarkan kepada saya bahwa ia mandi (berduaan) bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari satu bak.
[Bukhari, Muslim. Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah & Ahmad]
———
Tentang perkara ini kita sampaikan dalam file lain yang khusus membahas mengenai “mandi bersama” sehingga tidak usah kita jelaskan panjang lebar.
11. JANGAN BILANG SIAPA-SIAPA
Dari Abu Said Al-Khudri, katanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Seburuk-buruk tempat manusia di sisi ALLAH kelak pada hari kiamat adalah tempat suami yang telah saling percaya-mempercayai dengan isterinya, tetapi kemudian si suami membuka rahasia pribadi isterinya sendiri.”
[Muslim]
————
Ini adalah hadis yang melarang kita dengan keras atau bahkan mengharamkan kepada pihak suami maupun isteri untuk menceritakan apapun yang mereka berdua kerjakan ketika bersenggama kepada orang lain. Hadis di atas berbunyi tentang rahasia pribadi isteri, maksudnya adalah termasuk rahasia bagian-bagian tubuh isterinya atau apapun yang berhubungan dengan rahasia yang semestinya hanya suami-isteri saja yang tahu.
Dan orang yang tidak boleh diberitahu ini adalah semuanya, apakah itu orang tua atau mertua sekalipun,

Wallahu A’lam
hanya ALLAH yang Maha Mengetahui

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s