Belum Tentu Ramah Lingkungan – Risiko Lingkungan Energi Terbarukan


Walau pemanfaatan energi terbarukan lebih ramah lingkungan dibanding energi minyak dan batu bara, pembebasan lahan sebesar-besarnya untuk keperluan pengembangan energi terbarukan justru bisa menciptakan bencana lingkungan.

Awal Maret tiga tahun silam, Menteri Negara Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman mengirim sebuah surat elektronik terbuka. Ia melempar “bola” pemikiran yang provokatif ke publik. Menteri yang juga duduk sebagai Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) itu menghitung jika 2% saja konsumsi BBM jenis solar di dalam negeri menggunakan bahan bakar nabati (BBN) jenis biodiesel, maka ini nyaris ekuivalen dengan pemakaian 720.000 kiloliter biodiesel, 720.000 ton CPO, 200.000 hektar kebun sawit, penyerapan 65.000 tenaga kerja di perkebunan, dan 5.000 tenaga kerja di pabrik, serta mengurangi impor solar senilai US$216 juta.

Kemudian, lanjut Kusmayanto, jika 2% saja konsumsi BBM jenis premium di dalam negeri menggunakan BBN jenis bioetanol, maka ini bisa diartikan sebagai pemanfaatan 420.000 kiloliter gasohol, 2,5 juta ton ubi kayu atau 90.000 hektar kebun singkong, penyerapan 650.000 tenaga kerja, perputaran dana di petani sekitar Rp. 225 miliar, pembangunan 25 unit pabrik etanol dengan kapasitas masing-masing 60 kiloliter gasohol/hari yang juga berarti membutuhkan 1.000 tenaga kerja di pabrik, dan mengurangi impor premium sekitar US$125 juta. “Bagi yang ahli, mohon memeras otak dan menangkap peluang ini,” ujarnya.

Kusmayanto mengemukakan, dari hasil penelitian Kementerian Negara Riset dan Teknologi dan BPPT, telah ditemukan 60 jenis tanaman yang bisa menjadi sumber energi alternatif pengganti bahan bakar minyak solar dan premium. Ia mencontohkan minyak dari tanaman jarak pagar sudah mulai diproduksi sebagai bahan bakar alternatif pengganti solar. Telah mulai diproduksi juga bahan bakar nabati dari tanaman singkong beracun dan tebu yang setara dengan bahan bakar minyak premium. “Kami terus melakukan penelitian jenis-jenis tanaman apa saja yang paling dapat diproduksi sebagai sumber energi alternatif,” tutur mantan Rektor ITB itu.
Tudingan Merusak Lingkungan
Akan tetapi, peluang yang ditawarkan Kusmayanto itu perlu ditangkap dengan hati-hati. Pasalnya, pengembangan energi terbarukan justru bisa menciptakan bencana lingkungan serius, seperti kerusakan hutan, walaupun pemanfaatan energi terbarukan bisa menghemat pemakaian energi fosil dan lebih ramah lingkungan ketimbang energi minyak dan batu bara. Untuk mendapatkan berkilo-kilo liter biofuel setiap hari, dibutuhkan ratusan ribu hektar lahan pertanian. Artinya, mau tidak mau, hutan yang tersisa di Indonesia harus dibabat demi tercukupinya jumlah kebutuhan tersebut. Bahkan, pembebasan lahan untuk keperluan energi terbarukan berpotensi menciptakan persaingan dengan kebutuhan lahan untuk produksi pangan.

Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s